JOGJA – Gerakan bersih-bersih tempat berjualan terus dilakukan di 34 pasar tradisional di Kota Jogja. Kegiatan kerja bakti pasar ini dilakukan pada Kamis Pon. Sebagai komitmen awal kegiatan itu, diadakan Gerakan Reresik Pasar bertempat di Pasar Gedongkuning, Kamis (1/8).

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja Yunianto Dwi Sutono mengatakan kegiatan reresik ini dilakukan rutin setiap 35 hari. Sebagai “tuan rumah”, dilakukan secara bergiliran di 34 pasar. Nah, setiap Kamis Pon ini, para pedagang langsung reresik (bersih-bersih, Red). Setelah itu berkumpul di tempat pasar yang menjadi tuan rumah,” kata Yunianto.

Yunianto mengatakan gerakan ini memiliki banyak manfaat. Khususnya untuk mempertahankan eksistensi pasar tradisional. Yakni menjaga kebersihan lingkungan pasar agar menjadikan aktivitas jual beli antara konsumen dan pedagang di pasar bersih dan nyaman.”Kami harap ini bisa memacu setiap pedagang supaya tetap menjaga kebersihan mulai dari lapaknya masing-masing,” harapnya.

Koordinator Pasar Gedongkuning Jogja Antoni Prasetyo mengaku gerakan yang dicanangkan sejak di Pasar Beringharjo ini menjadikan persaudaraan antarwarga di lingkungan pasar menjadi lebih erat. Namun yang paling utama menurutnya gerakan reresik pasar yakni untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pengunjung.”Sebenarnya kami sudah rutin melakukan ini,’’ kata Antoni.

Antoni menjelaskan sampah yang paling sering muncul ditimbulkan adalah sampah-sampah kotak dari bekas buah. Adapaun jika di pasar tradisional lain sampah-sampah dibersihkan oleh petugas kebersihan namun berbeda dengan Pasar Gedongkuning. Dimana para pedagang memiliki inisiatif tersendiri untuk mengumpulkan sampah-sampah bekas yang masih bisa dimanfaatkan guna mengurangi penumpukan sampah.

“Biasanya kotak-kotak buah ini mereka bawa pulang untuk dijadikan kayu bakar, jadi kekompakan mereka terlihat setiap hari tidak hanya pada momen ini,” tambahnya.

Sehingga dengan konsistensi dan komitmen bersama secara kekompakan antar pedagang, selama tiga sampai empat tahun berturut ini Pasar Gedongkuning setiap tahun menerima predikat juara kebersihan pasar. ”Pasar kami kategorinya kelas lima, tapi disandingkan dengan pasar yang kelas satu atau dua tidak kalah karena kami juga punya bank sampah dan kegiatanya aktif,” akuinya.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Gedongkuning Suprihatin menuturkan sejak adanya paguyuban yang digerakkannya dari 2010 silam warga pasar terutama para pedagang semakin memiliki kesadaran sendiri untuk menjaga kebersihan mulai dari lapaknya masing-masing.”Kalau dulu susah diatur, weh-weh luweh sing penting dodolan golek duit entuk bathi lan dodolan laris (dulu hanya cuek yang penting berjualan di pasar nyari uang dapat untung dan jualannya laku, Red),” ungkapnya.

Suprihatin merasakan kesenangan tersendiri bisa bergabung di paguyuban itu apalagi bisa mengajak seluruh pedagang pasar untuk turut terlibat dalam menjaga kebersihan. Tidak hanya itu, pedagang pasar juga semakin aktif dalam berorganisasi maupun kegiatan yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan. “Alhamdullillah mereka merespons dengan baik, tidak mudah dan tidak hanya sebentar untuk menggerakkan ini,” tambahnya.

Dia membutuhkan waktu empat tahun untuk menggerakkan seluruh warga pasar agar memiliki kesadaran dalam emnjaga kebersihan pun memiliki keaktifan dalam kegiatan lainnya.”Sekarang pasar kami lebih tertata dan bersih dibandingkan dengan yang dulu,” katanya.(cr15/din/by)

Jogja Utama