Bermula dari hobi naik gunung, Sultoni mulai menyukai dunia olahraga panjat tebing. Berkat kerja keras dan keyakinannya, dia sukses menjadi atlet. Kini dia menjadi pelatih panjat tebing atlet-atlet Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).

Ana R Dewi, Jogja

SULTONI tak pernah mengira hobi yang dia tekuni dapat mengantarkannya menjadi seorang atlet panjat tebing. Bahkan, hingga menorehkan segudang prestasi untuk kota kelahiran dan negaranya.

Setelah pensiun sebagai atlet, Sultoni mencoba peruntungan menjadi pelatih. Diapun ditunjuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Daerah Istimewa jogjakarta (DIJ) untuk melatih tim panjat tebing DIJ.  Kini sudah lima tahun pria 42 tahun itu menjadi pelatih Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) panjat tebing DIJ.

Radar Jogja berkesempatan mewawancarai Sultoni Sulaiman mengenai perjalanan karirnya sebagai atlet dan aktivitasnya kini menjadi pelatih.

Di sela-sela kesibukan melatih anak didiknya di Kompleks Stadion Mandala Krida, Sultoni menuturkan, tak pernah terbesit dipikirannya untuk menjadi seorang atlet. Apalagi saat itu usianya terbilang tak muda lagi. “Awalnya hobi naik gunung, lalu saya iseng nyoba manjat kok banyak yang bilang saya punya bakat,” ujarnya.

Bermodalkan keisengan tersebut dia mencoba mengikuti seleksi tim Kejuaraan Nasional (Kejurnas) DIJ tahun 2002. Tak disangka, dia pun lolos menjadi tim panjat tebing untuk mewakili DIJ di ajang Kejurnas Makassar 2002.

Sultoni mengaku sempat ditentang oleh kedua orang tuanya lantaran panjat tebing tergolong olahraga beresiko. Artinya dapat mengakibatkan risiko cedera yang cukup fatal. Apalagi saat itu dia baru saja menamatkan kuliah dan disarankan untuk melanjutkan usaha optik keluarganya. “Keluarga meragukan lantaran saya tidak mulai berlatih sejak kecil. Saat itu kan umur saya sudah 22 tahun,” katanya.

Namun, berkat kerja kerasnya, Sultoni mampu menunjukkan kepada keluarganya bahwa dia bisa sukses menjadi atlet panjat tebing. “Semenjak mendapat medali pertama, orang tua berbalik mendukung saya,” kenangnya.

Di puncak karirnya, Sultoni sempat mendapat ujian yang cukup berat lantaran mengalami cedera punggung. Hal itu, mengakibatkan dia harus vakum dari olahraga panjat tebing selama satu tahun penuh. “Saya cedera karena sering jatuh saat latihan,” ujarnya.

Dia pun melewatkan Kejurnas tahun 2005 untuk fokus pemulihan cedera. Kendati demikian, Sultoni pantang menyerah. Dia terus berusaha agar dapat kembali berlatih panjat tebing. Setelah satu tahun off memanjat, 2006 Sultoni kembali dipanggil puslatda DIJ untuk mengikuti Kejurnas.

Prestasi yang ditorehkan Sultoni terbilang mentereng. Di antaranya, Kejurnas Makassar 2002 mendapat peringkat delapan di nomor speed classic, Pra-PON Palembang 2003 mendapat emas di nomor speed perorangan, PON Palembang 2004 mendapat dua perak, Kejurnas Karawang 2006 mendapat perak, Pra-PON Surabaya 2007 mendapat medali perak di nomor speed perorangan, perak di nomor speed campuran, dan perunggu di nomor speed beregu, PON Kaltim 2008 mendapat perunggu, Kejurnas Jakarta 2010 mendapat perak, Pra-PON Semarang 2011 mendapat perunggu, dan PON Riau 2012 mendapat perunggu.

Sementara itu di kejuaraan Internasional Sultoni pernah mewakili Indonesia di ajang IFSC Word Cup di China 2003 mendapat peringkat 12 dan kejuaraan Asian Championship Guangzhou 2007 mendapat peringkat empat.

Sebagai pelatih, Sultoni pernah mengantarkan tim DIJ meraih medali perak di ajang Pra-PON Bandung 2015. Pria dua anak itu juga sempat menjadi asisten pelatih panjat tebing Indonesia di ajang Asian Games Jakarta-Palembang 2018. “Saya mendapat penghargaan dari DIJ di acara Hari Olahraga Nasional (Haornas) karena pencapaian saya menjadi asisten pelatih tim panjat tebing Indonesia,” ujarnya.

Saat ini, Sultoni tengah fokus melatih tim puslatda panjat tebing DIJ untuk persiapan Pra-PON September mendatang. “Target mendapat medali emas di Pra-PON nanti,” ujarnya. (din/by)

Jogja Utama