JOGJA – Akses jalan tembus kawasan Nagan Kulon dan Kidul dengan jalan Letjend. MT. Haryono akan ditutup 31 Juli. Ini sesuai dengan konsep revitalisasi Pojok Beteng medio 2015.

Kepala Kandha Kabudayan atau Dinas Kebudayaan DIJ Aris Eko Nugroho menuturkan, awalnya kawasan tersebut adalah tembok beteng. Struktur bangunan dibangun bersamaan dengan pojok beteng. Tepatnya era Hamengku Buwono II, 1785 hingga 1787.

“Saat HB II masih menjadi putra mahkota. Bangunan pojok beteng diperkuat lagi pada 1809. Penutupan jalan tembus merupakan upaya mengembalikan ke filosofisnya tentang revitalisasi pojok benteng,” jelasnya, Kamis (25/7).

Hanya saja dia tidak mengetahui awal mula munculnya jalan tembus. Walau begitu Aris memastikan penutupan ini sesuai dengan konsep revitalisasi. Setiap pojok benteng dihubungkan oleh tembok tinggi.“Setahu saya, pintu masuk arah Kraton itu hanya ada lima di empat arah mata angin. Di sisi utara ada dua, utara Ngasem dan dari Alun-Alun Utara,”  katanya.

Terkait bentuk dan rekonstruksi, Aris belum bisa menjawab. Dia hanya memastikan saat ini dalam proses kajian. Tentunya dengan melibatkan instansi terkait terutama Kraton Jogjakarta. Pastinya tembok tersebut tidak hanya asal menghubungkan.

“Rencana ditutup dahulu, tapi untuk rekonstruksi membutuhkan perencanaan detail. Kami belum bisa mengatakan (pembangunan) seperti apa, apakah langsung tahun ini atau tahun depan,” ujarnya.

Disinggung tak ada kepastian pembangunan, Aris memiliki jawaban lain. Penutupan 31 Juli sebagai wujud sosialisasi langsung kepada warga. Meski jauh sebelumnya telah ada sosialisasi oleh petugas kelurahan dan kecamatan.

Ketua RT 26, rw 07 Nagan Kidul, Kecamatan Keraton Jogja, Rohmat Hajir mengaku pada dasarnya dia mendukung dengan rencana Pemprov untuk merevitalisasi cagar budaya Jokteng itu. Sejak tiga bulan yang lalu sudah menerima informasi dan penyuluhan dari tingkat atas untuk menginformasikan kepada warganya. “Sudah ketentuan sing duwe ngarsa dalem, sing penting kita nyaman aja menggunakan jalan itu meskipun nanti dari Dishub akan mengalihkan jalan disana,” kata Rohmat.

Sementara warga sekitar Nagan Kidul Yati mengakui, dengan penutupan jalan itu akan menyulitkan beberapa pedagang yang melintas. Seperti bakul bakso, bakmi, ataupun tukang becak. Karena setiap harinya pedagang maupun tukang becak itu melintas melalui jalan tersebut.”Iya tiap hari kadang sore atau malam gitu banyak bakul-bakul bakso lewat atau bakmi. Jadi mesakne harus muter jauh to,” tambahnya.

Terkait dengan hal itu sebagai warga yang sudah tinggal puluhan tahun disana dia tetap mendukung rencana revitalisasi Jokteng untuk pelestarian cagar budaya. “Ya manut-manut sing duwur to opo yo koyo duwek e dewe,” ujarnya. (dwi/cr15/pra/zl)

Jogja Utama