JOGJA – Personil di kampung tangguh bencana (KTB) juga harus memiliki kemampuan penanganan korban. Masih kerap terjadi salah penanganan pertama pada. Salah satunya adalah mengangkat langsung korban.

Staf PMI Kota Bachar Heru mengungkapkan, penolong tidak bisa serta merta mengangkat korban. Itu untuk mengantisipasi adanya luka dalam maupun patah tulang. “Pertama jika bisa diajak komunikasi, tanya dulu korban sakit bagian mana. Lalu minta gerakan bagian tubuhnya sebagai identifikasi normal. Apabila semua berfungsi baru boleh diangkat,” katanya di sela apel siaga Forum Relawan KTB Gondokusuman, di Embung Langensari Selasa.

Apabila tidak terdeteksi denyut nadi dan detak jantung, lanjut dia, bisa melakukan pertolongan awal. Caranya pastikan melalui pergerakan nafas di dada, mulut dan hidung. Saat tak ada denyut lakukan tekanan pada titik kompresi.”Letaknya diatas tulang dada atau di antara kedua dada. Genjot dengan tangan sebanyak 30 kali dengan kecepatan 120 permenit. Lalu berikan nafas buatan dengan ditiup sebanyak 20 kali. Lakukan sampai sadar atau ada denyut nadi,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini dia juga mengevaluasi kesigapan para relawan. Walau niat awal menolong justru jangan sampai jadi korban berikutnya. Pertolongan wajib dilakukan sesuai standar keselamatan.

Untuk personel wajib melengkapi diri dengan sarung tangan karet dan masker. Ini untuk menghindari penularan penyakit terhadap korban tertentu. Mulai dari penyakit yang ditularkan manusia maupun oleh hewan.”Seperti tuberkulosis itu kan menyebarnya lewat udara, jadi memang wajib lindungi diri sendiri. Pakai sepatu boot untuk antisipasi tidak menginjak paku berkarat. Jangan sampai niatnya menolong malah jadi korban berikutnya,” pesannya.

Sementara itu Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mendorong tiap KTB melakukan pemetaan. Terutama terhadap tipikal dan potensi bahaya yang dimiliki setiap wilayah. Tujuannya adalah memudahkan dalam penyusunan dan implementasi manajemen bencana. Jogja, lanjutnya, memiliki potensi bahaya yang cukup komplek. Tidak hanya bencana alam tapi juga akibat kelalaian manusia. Sehingga perlu ada pemetaan secara matang. “Seperti wilayah yang berada di sepanjang aliran sungai, itu potensi banjir atau talud rubuh pasti ada. Juga potensi lain seperti kebakaran dan angin puting beliung juga tinggi,” kata HP.

Terkait forum relawan, HP berharap menjadi wadah komunikasi. Tujuannya untuk menghindari tidak efektifnya implementasi manajemen bencana. Termasuk pembagian spesialisasi sesuai kemampuan kelompok relawan.  “Biasanya ada spesialisasi, ini yang kami sasar. Selama ini kan jalan sendiri-sendiri baik dari unsur tagana, PMI, KTB maupun unsur lainnya,” harapnya. (dwi/pra/by)

Jogja Utama