JOGJA – Lokakarya kurikulum prodi Bisnis Kewirausahaan Universitas Widya Mataram mengundang berbagai kalangan Jumat (12/7). Mulai praktisi, pengusaha, alumni dan pemerintahan. Sebanyak tujuh narasumber dihadirkan dalam acara tersebut.

Dekan FE UWM Drs. As. Sutarno, MM, saat membuka lokakarya mengatakan, evaluasi kurikulum ini merupakan tindak lanjut hasil studi banding ke Universitas Ciputra dan Universitas Ma Chung Malang. Serta persiapan Prodi Bisnis Kewirausahaan yang akan melakukan reakreditasi 2020. “Harapannya hasil reakreditasi pada 2020 akan lebih baik,” kata Sutarno.

Pada kesempatan yang sama Ketua Prodi Bahri, SE., MM memaparkan sekilas tentang kurikulum kewirausahaan. Sedang Tego Sudarto, SE., MM selaku alumni sekaligus tim LLDIKTI Wilayah V mengatakan, bahwa prodi ini harus memiliki ciri khusus serta kurikulum diseimbangkan antara teori dan praktek.

Dalam kesempatan selanjutnya Dr. Ir. Benyamin Senduk Sugeha, M.Kes dari Kamar Dagang dan Industri DIJ melihat dari sisi sebuah teori Triple Helix. Yakni sinergi dan penyatuan tiga kalangan yang terdiri dari kalangan akademik, bisnis atau pengusaha dan pemerintah. “Dengan begitu prodi Bisnis Kewirausahaan mampu menyinergikan tiga unsur itu sehingga kurikulum ini akan berjalan sesuai dengan keadaan sekarang,” ujarnya.

Ahmad Sobari, SE dan Liza Mega Pratiwi  pengusaha bidang perbankan dan Tour and Travel Agen mengatakan hal yang sama yakni mahasiswa nantinya harus mampu melihat peluang dan keluar dari zona nyaman. “Membangun mindset dan spirit sangat penting dalam kurikulum ini bahkan sebaiknya bisa masuk ke sosiopreneur,” kata R. Apriliado Rustiawan pengusaha dan founder dari Bela Beli Usaha Mikro Kecil dan menengah.

“Kurikulum ini bisa memunculkan budaya organisasi dan etika bisnis atau berkaitan dengan konsentrasi prodi yakni kulinary dan pariwisata dengan memasukkan mata kuliah halal food dan wisata halal”, kata Aris Risdiana Ekasasmita, MM praktisi dan anggota Ikatan Dosen Republik Indonesia DIJ. (sce/pra/er)

Jogja Utama