JOGJA – Hari pertama masuk sekolah Senin (15/7) masih diwarnai adanya sekolah yang kekurangan kuota. Data Balai Pendidikan Menengah Kota Jogja menunjukkan, sedikitnya 30 SMA swasta dan 22 SMK swasta belum mampu memenuhi kuota untuk tahun ajaran 2019/2020. Ini diduga sebagai dampak sistem zonasi sekolah negeri.

SMA Muhammadiyah 6 Jogja, misalnya. Dari total 40 kursi untuk dua rombongan belajar (rombel) hanya terisi 10 siswa baru. Karena itu, untuk menutup kekurangan 30 siswa pihak sekolah memutuskan tetap membuka pendaftaran peserta didik baru hingga akhir Juli ini.

GRAFIS: (HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 6 Jogja Siti Widiyanti mengatakan, kekurangan siswa secara signifikan baru terjadi tahun ini. Tahun lalu sekolah swasta itu justru kelebihan kuota. Ada 44 siswa baru. “Ini semenjak adanya sistem zonasi. Kami merasa dirugikan, tapi nggak bisa apa-apa. Hanya satu rombel saja tidak penuh,” keluhnya Senin (15/7).

Belum lagi munculnya kebijakan penambahan kuota sekolah negeri. Kondisi itu makin membuat sekolah swasta terpuruk. Sebagaimana diketahui, sekolah yang awalnya hanya akan diisi 32 siswa per rombel, ditambah menjadi 36. Siti menuding, hal inilah yang menjadikan sekolah swasta tidak mendapatkan siswa baru. “Kalau sekolah swasta yang besar saja kurang siswa, bagaimana dengan yang kecil,” sesal Siti.

Kondisi itulah alasan Siti tetap membuka pendaftaran calon siswa baru. “Barangkali ada anak yang belum mendapatkan sekolah bisa mendaftarkan diri,” katanya.

Siti mendesak pemerintah untuk mengkaji ulang kebijakan zonasi. Dengan mempertimbangkan dampak positif dan negatifnya bagi sekolah swasta. Karena peran sekolah swasta tetap penting. Sebagai alternatif bagi siswa yang tak diterima sekolah negeri. “Sekolah swasta ini juga harus dipikirkan. Kami ini harus mencari siswa,” tegasnya.

Kepala Balai Pendidikan Menengah Kota Jogja Suhartati mengakui adanya masalah kekurangan siswa pada sekolah swasta. “Saya nggak bisa matur persentasenya karena data belum masuk semua. Tapi hampir seluruh (sekolah swasta, Red) di DIJ nasibnya hampir sama, belum penuh,” ungkapnya.

Suhartati menengarai ada beberapa hal yang menyebabkan sekolah swasta kekurangan siswa baru. Di antaranya, berkurangnya jumlah anak usia sekolah, pilihan sekolah siswa di luar Jogja, atau banyaknya calon siswa yang kembali mengikuti domisili orang tuanya.

“Masyarakat sekarang sudah cerdas. Mereka memilih sekolah yang layanannya bagus,” ujarnya. (cr15/yog/rg).

Jogja Utama