JOGJA – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY terus mengkampanyekan gerakan bersih sungai. Tujuannya, menjaga kualitas air sungai agar semakin baik. Sebab, sebagian masyarakat masih ada yang membuang sampah ke sungai.

Sepanjang 2019 ini, DLHK DIY menggelar kegiatan bersih kali di sepuluh sungai. Adapun kegiatannya menyasar sebanyak 72 titik. Salah satunya, seperti dilakukan di Sungai Klandoan di kompleks Perumahan Minomartani Jalan Kakap 3 RW 04 Minomartani, Ngaglik, Sleman, Minggu (14/7).

Puluhan warga terlihat terjun langsung ke sungai. Mereka ramai-ramai membersihkan sungai dari sampah. Terutama sampah plastik. Juga sampah lainnya seperti kaca, popok dan lainnya. Upaya membersihkan Sungai Klandoan itu dilakukan karena di sepajang aliran sungai tersebut terdapat banyak  mata air. “Itu yang istimewa. Sungai Klandoa tidak pernah kering,” terang Ketua RW 04 Minomartani Istiaji Subekti di sela acara bersih sungai.

Istiaji menambahkan, kondisi Sungai Klandoan dulunya dipenuhi sampah. Itu karena sejumlah warga kerap membuang sampah ke dasar sungai. Karena itu, penghuni Perumahan Minomartani bersama masyarakat sekitar dan DLHK DIY berinisiatif mengadakan gerakan bersih sungai. Kegiatan itu diadakan secara rutin. Minimal satu minggu sekali Sungai Klandoan dibersihkan dari berbagai sampah. “Bersih sungai ini juga untuk merawat mata air yang ada,” lanjutnya.

Dengan bersih sungai itu, Istiaji ingin mewujudkan sungai yang bersih, hijau dan sehat. Dia juga mengaku gembira gerakan bersih sungai itu direspons positif oleh masyarakat. Terbukti peserta kerja bakti bersih sungai dari hari ke hari terus bertambah.

Muncul kesadaran pentingnya menjaga kebersihan sungai. Dari kesadaran, Istiaji yakin menjadi kebutuhan. Dari dua hal itu akan tumbuh semangat yang konsisten menjaga sungai. “Ini upaya membangun kesadaran masyarakat,” kata Istiaji.

Di sisi lain, kondisi bantaran Sungai Klandoan mulai tertata. Sudah ada jogging track yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Selain itu, beberapa pohon juga sudah mulai ditanam. “Harapannya nanti bisa jadi percontohan,” harapnya.

Warga di sekitar bantaran sungai juga sudah mulai bisa mengolah sampah secara mandiri. Mereka telah memiliki bank sampah. Juga instalasi pengolahan qair limbah (IPAL) komunal.

Tidak sampai di situ, kawasan Sungai Klandoan menjadi ruang terbuka bagi masyarakat. Karena itu, warga bisa memanfaatkanya. “Harapannya bisa untuk wisata murah,” kata Istiaji.

DLHK DIY telah memberikan bantuan kepada masyarakat untuk perlengkapan membersihkan sungai. Di antaranya,  masker, sarung tangan dan karung. (har/kus/er)

Jogja Utama