JOGJA – Saat ini belum masuk musim kemarau, tapi wilayah DIJ sudah lebih dua bulan tak ada hujan. Pemprov DIJ bersama Pemkab dan Pemkot di DIJ sudah melakukan mitigasi dampak kekeringan. Di antaranya dengan membangun sistem penyedia air minum (SPAM) di kawasan-kawasan yang kerap terdampak kekeringan.

Sejumlah kawasan yang kerap dilanda kekeringan yakni Gunungkidul dan beberapa bagian di kabupaten Sleman, Bantul dan Kulonprogo.Sekprov DIJ Gatot Saptadi mengatakan, pembangunan SPAM bisa ditawarkan kepada pihak ketiga melalui kerjasama pemerintah dan badan usaha (KPBU). Dia melihat, sejauh ini bantuan-bantuan badan usaha baru sekedar droping air bersih ke wilayah terdampak bencana.

”Ini proyek yang tengah kami tawarkan. Karena manfaatnya akan sangat terasa bila bencana kekeringan terjadi,” kata Gatot Senin (1/7).

Diakui, untuk pelaksanaan program tersebut memang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Disamping itu, butuh penelitian untuk mencari sumber-sumber air di wilayah kekeringan. Bila nantinya ada investor yang bernimat dalam pengembangan SPAM, direncakanakan bisa terintegrasi dengan tiga wilayah Jogja, Sleman dan Bantul (Kartamantul).

Begitupun untuk mengatasi kekeringan yang terjadi kerap terjadi di Gunungkidul. Meski terdapat sumber-sumber air di sungai bawah tanah. “Masih terkendala teknologi untuk mengangkat sumber air tersebut untuk bisa ke atas,” tutur mantan Penjabat Bupati Sleman itu.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUP-ESDM) DIJ Hananto Hadi Purnomo menyebut pemanfaatan sungai bawah tanah menjadi salah satu upaya untuk mengatasi kekeringan. Hanya, untuk mengangkat air-air sungan ke atas memerlukan biaya yang cukup besar.”Ada alat pompa air dengan teknologi tinggi. Tapi sayangnya tidak dijual di Indonesia dan memerlukan anggaran cukup besar untuk menerapkan,” kata Hananto.

Di Gunungkidul, lanjutnya, sudah ada yang menerapkan sistem teknologi penyerapan air sungai bawah tanah seperti yang ada di Bribin. Namun, keberadaannya belum mencakup sebagain wilayah yang ada di Gunungkidul yang kerap mengalami kekeringan.

Pemprov, akan mengkaji potensi sungai bawah tanah di Seropan dan Ngobaran. Sebab penelitian terkait dengan sungai bawah tanah yang ada saat ini di Gunungkidul, sudah berusia sekitar 15 tahun lalu. ”Ya harus berkelanjutan penelitiannya,” kata mantan Kepala Inspektorat DIJ itu.

Dampak lain musim kemarau, juga sudah diantisipasi Dinas Pertanian DIJ dengan mengimbau para petani untuk menanam tanaman holtikultura. Dari data hingga (15/6), kekeringan melanda sejumlah kecamatan yang ada di Gunungkidul.

Di Kecamatan Semin lahan pertanian yang mengalami kekeringan kategori ringan sebanyak 874 hektar, Gedangsari (807 ha), Ngawen (987 ha), Karangmojo (448 ha), Playen ( 245 ha), Ponjong (100 ha), Patuk ( 153 ha).

Kepala Distan DIJ Sasongko mengatakan mengimbau agar para petani lebih cermat untuk melakukan pola tanam selama kemarau. Salah menerapkan pola tanam, berdampak pada potensi gagal. ”Jika ketersediaan air silahkan tanam tanaman holtikultura,” jelasnya. (bhn/pra/zl)

Jogja Utama