JOGJA – Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menggelar Dialog Budaya di Hotel Tjokrostyle Jalan M Supeno, Selasa (25/6). Kegiatan yang dihadiri perwakilan dari 45 kelurahan ini mengambil tema Jogja Menuju Kota Budaya.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Ir Eko Suryo Maharsono MM menyampaikan dialog budaya kali ini berupaya menggali masukan dan kritikan dari masyarakat tentang program Rintisan Kelurahan Budaya (RKB). Harapannya setiap kelurahan bisa melestarikan budaya yang menjadi ciri khas daerahnya masing-masing. Dan targetnya adalah didatangi pengunjung sehingga ada perputaran ekonomi. “Baik itu warisan budaya benda maupun tak benda,” terangnya.

Menurut Eko, untuk menyukseskan hal ini butuh partisipasi dari semua pihak tanpa saling menyalahkan satu sama lain. Kuncinya saling mendukung dan saling mengkritisi yang membangun.”Saat ini di 14 kecamatan di Kota Jogja, dari 45 Kelurahan, 18 Kelurahan adalah RKB dan 2 kelurahan sudah menjadi Kelurahan Budaya (KB),” ungkapnya.

Tim Pengembangan Budaya Pariwisata, Ketua Forkom Kampung Wisata, dan Ketua Pokdarwis Kota Jogja Ir Sigit Istiarto menjelaskan, dialog ini juga bertujuan memberikan motivasi dan bekal kepada perwakilan dari setiap kelurahan agar segera terbentuk RKB dan KB sehingga eksistensi Jogja sebagai kota budaya semakin kuat.  Penguatan ini melalui basis masyarakat agar memberikan dampak value secara ekonomi. Di satu sisi budaya menjadi aktivitas masyarakat secara rutin namun disisi lain memberikan nilai ekonomi. “Kebijakan pengembangan kebudayaan di Jogja 2020 akan didukung Danais yang cukup besar,” ungkapnya.

Pengamat dan Pemerhati Budaya Dr Amiluhur MSc mengingatkan masyarakat harus ingat akan jati dirinya sebagai orang Jogja. Jangan segala yang dari luar itu dianggap memiliki strata yang lebih tinggi. Masing-masing kelurahan harus mampu memasarkan dirinya. Berfikirnya harus kemandirian karena pemerintah hanya sebagai fasilitator. Intinya bagaimana menciptakan budaya keseharian yang yang menarik minat wisatawan karena sekarang yang dicari adalah otentisitas dan originalitas.”Tapi budaya harus dikemas dalam balutan modernitas jangan dijual begitu,” paparnya.(a11/din/er)

Jogja Utama