JOGJA – Warga Desa Mertelu, Gedangsari, Gunungkidul baru saja mengadakan bersih desa. Acaranya ditandai dengan atraksi seni budaya pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Kegiatan tersebut dalam rangka mendukung destinasi wisata Green Village Gedangsari.

“Pagelaran wayang kulit itu sebagai upaya pelestarian adat tradisi guna mendukung pengembangan pariwisata,” ujar tokoh masyarakat Gedangsari Suparja Jumat (21/6).

Merti desa itu telah berlangsung pada Sabtu (16/6) malam. Acara yang didukung Dinas Pariwisata DIY itu berlangsung di balai desa setempat. Selain Suparja yang juga anggota Komisi B DPRD DIY, acara tersebut dihadiri Camat Gedangsari Suharjo dan kepala desa se-Kecamatan Gedangsari. Adapun dalang yang tampil adalah Ki Sugeng dari Desa Hargomulyo, Gedangsari.

Suparja mengatakan Green Village Desa Mertelu diresmikan Gubernur DIY Hamengku Buwono X pada 30 Agustus 2017 lalu. Destinasi wisata itu dilengkapi dengan wahana permainan flying fox  sepanjang 625 meter. “Itu terpanjang kedua di Asia Tenggara,” jelas Suparja.

Kecepatan luncur flying fox itu mencapai 80 km/jam. Keberadaan flying fox ini semakin melengkapi hiburan yang disajikan Ekowisata Green Village Gedangsari. Wisatawan tidak hanya berburu spot foto. Namun juga bisa menguji adrenalin.  Keindahan Gunungkidul dan Klaten bisa dilihat.

Tugiman, mantan kepala Desa Mertelu yang ikut merintis wahana permainan itu mengatakan faktor keselamatan menjadi perhatian utama. Teknologi yang digunakan berasal dari Prancis. Sedangkan tali pengaman didatangkan langsung dari Inggris. “Semua menggunakan standar internasional,” jelas Tugiman. Wisatawan yang punya riwayat penyakit jantung tidak diizinkan mencobanya.

Terpisah, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata DIY Aria Nugrahadi mengakui,  pariwisata  membutuhkan  kreativitas para pelaku wisata. Semakin banyak atraksi seni tradisonal akan menarik minat turis. Baik wisatawan mancanegara maupun nusantara.  “Kami mendukung upaya pelestarian budaya demi kemajuan destinasi wisata,” katanya.

Dikatakan, atraksi kesenian sangat mendukung pengembangan destinasi wisata. Termasuk pagelaran wayang kulit yang lekat di masyarakat. Atraksi seni budaya memberikan daya dukung bagi pengembangan destinasi wisata.

Dinas Pariwisata DIY senantiasa mendukung segala upaya pengembangan potensi wisata di DIY.  Pengembangan pariwisata tidak selalu terkait dengan objek atau destinasi wisata. Namun dapat dilakukan melalui sarana pagelaran dan atraksi seni.

Karena itu, dukungan terhadap pengembangan pariwisata dapat ditempuh melalui atraksi-atraksi kesenian rakyat. Dengan adanya pagelaran itu dapat menjadi alternatif bagi wisatawan yang berkunjung ke DIY. Dia berharap atraksi itu bisa jadi daya tarik bagi wisatawan. (kus/by)

Jogja Utama