JOGJA – Kos-kosan di kawasan Prawirodirjan Gondomanan digemparkan dengan penemuan mayat Rabu (12/6). Berdasarkan penyidikan sementara penyebab kematian akibat sakit. Hanya saja saat olah tempat kejadian perkara, ditemukan rekam medis rumah sakit, yang menunjukkan positif HIV.

Kapolsek Gondomanan AKBP I Nengah Lotama membenarkan temuan tersebut. Bukti rekam medis dari Rumah Sakit Panti Rapih itu tertanggal 10 Mei 2019. Hanya saja terkait kematian pria ini tengah dalam pendalaman.

“Apakah penyebabnya itu (HIV) kami tidak tahu. Pastinya saat kejadian tim dari Puskesmas Gondomanan langsung memeriksa. Identitas awal korban tsunami Aceh dan hidup sebatang kara,” jelasnya kemarin (13/6).

Jajarannya tengah fokus melacak keluarga atau kerabat jenasah. Dari identitas, pria atas nama Hendra beralamatkan jalan Pelabuhan 14 Komplek Uleelheue, Meruraxa, Banda Aceh. Kelahiran 15 April 1988.

Saat ditemukan, jenazah dalam keadaan tertelungkup di kasur. Posisinya tidak mengenakan celana dan hanya selembar kaos. Di depan kemaluan korban juga terdapat botol air mineral ukuran 1,5 liter. Botol ini diduga menjadi tempatnya kencing.

“Kami sedang koordinasi dengan ikatan pelajar mahasiswa asal Aceh. Untuk melacak apakah masih ada keluarga korban di Jogjakarta atau di Aceh,” ujarnya.

Sementara itu pemilik kos Sriwulan, masih terlihat syok. Ditemui di kediamannya di barat SMA Santa Maria, perempuan 74 itu bercerita banyak. Sriwulan mengaku, Hendra menyewa kamar kos sejak 12 Mei. Sewa selama tiga bulan.

Awal kedatangan, Hendra hanya membawa Honda Spacy AB 6976 AF. Kala itu tidak terlihat Hendra dalam kondisi sakit. Kepada ibu empat anak ini, Hendra mengaku bekerja di Mall. “Saya mulai curiga setelah menghuni kamar kos. Tidak pernah srawung, lewat depan saya saja tidak menyapa. Lalu juga tidak pernah ke kamar mandi,” kisahnya.

Kecurigaan bertambah selang sepekan kemudian. Dua orang teman Hendra mendatangi kos dan minta izin memasuki kamar. Alasannya untuk mengambil charger gawai dan pakaian.

Kepada Sriwulan, kedua orang ini mengaku Hendra mengalami kecelakaan lalu lintas. Hendra, lanjutnya, tengah dirawat di RS Bethesda. Setelah meminta identitas keduanya, Sriwulan meminta sang menantu Dwianto menemani ke kamar kos.

“Nah saat diantar dan buka kamarnya kok ada dua botol air mineral berisi cairan berwarna kuning kemerah-merahan. Langsung curiga itu air pipis, akhirnya saya minta untuk membuang botol itu,” katanya.

Keberadan Hendra kembali menghilang pertengahan bulan. Tepatnya 22 Mei Hendra menghilang selama lima hari. Setelah bertemu, pria tersebut mengaku tengah dirawat di RS Bethesda. “Waktu pertama keluar dari rumah sakit sudah terlihat segar. Tapi tetap tidak pernah srawung, lebih banyak mengurung diri di dalam kamar,” katanya.

Anak Sriwulan, Sriwulantari, juga merasakan kecurigaan yang sama. Tidak ingin berlarut dia segera melapor ke RW setempat. Saat diinterograsi Hendra justru mengaku bekerja di hotel.Anak kedua Sriwulan ini juga tidak pernah melihat Hendra berangkat kerja. Sebelum ditemukan meninggal ada beberapa kejanggalan. Bau pesing, amis disertai bau kotoran manusia tercium sejak Sabtu (8/6). Di hari yang sama, dia juga masih sempat mendengar suara Hendra dari dalam kamar.

“Suaranya seperti berbincang-bincang lewat telepon. Saat ditemukan (meninggal), belum ada bau busuk dan lalat. Kata pak polisinya badan masih lemas dan badannya masih bisa diluruskan. Saat (kamar) dibuka ada lagi botol berisi air kencing,” jelasnya.(dwi/pra/fj)

Jogja Utama