JOGJA – Para mahasiswa di era milenial ini dinilai makin kurang perhatiannya pada isu-isu sosial. Kalau pun ada, gerakan mahasiswa saat ini orientasinya cenderung pada politik praktis.

“Kalau dilihat mahasiswa sekarang discourse social-nya masih kurang, perhatian terhadap persoalan-persoalan kerakyatannya itu kurang,” kata mantan aktivis 1998 dari Universitas Atma Jaya Jogja Widihasto Wasana Putra di sela diskusi bertajuk “Melanjutkan Tugas Kebangsaan” di Kampoeng Mataraman, Sewon Bantul Selasa sore (20/5).

Pria yang akrab disapa Hasto itu menyebut mahasiswa era milenial saat ini diharuskan lebih banyak aktif untuk membuat gerakan sosial. Agar lebih berpihak dan lebih memperhatikan masalah kerakyatan, “Mereka sekarang ini kurang kelihatan aksi sosialnya,” tegasnya.

Padahal, lanjut dia, gerakan mahasiswa itu orientasinya tidak di politik kekuasaan. Tapi lebih ke politik kerakyatan. “Meskipun ada yang beberapa aktif tapi mereka terjebak pada politik praktis,” jelasnya.

Namun poin penting, kata pria yang juga aktif di Sekber Keistimewaan DIJ itu, yang menjadi agenda ke depan yang perlu mendapat perhatian bangsa ini adalah terkait isu-isu sosial seperti kemiskinan, ketimpangan sosial,  peningkatan ekonomi masyarakat, buruh, pengangguran, dan lain sebagainya, “Saya kira ini yang menjadi tugas kebangsaan teman-teman aktivis kedepan, ” tambahnya.

Dia pun menilai, semangat reformasi yang bergulir selama 21 tahun ini, masih tersandung oleh berbagai persoalan isu sosial. Itu yang mengharuskan gerakan mahasiswa tetap hadir ditengah-tengah bangsa sebagai bentuk sejarah dan aktualisasi peran kaum muda.

Ketika dikonfirmasi, Rosid Sidiq Hidayatulloah, selaku Ketua KAMMI UNY mengaku pergerakan mahasiswa sudah masif dilakukan. Tapi dia menyalahkan ekspos yang kurang dalam pemberitaan. “Ayolah kita sama-sama menyuarakan yang kemudian dibutuhkan oleh masyarakat. Karena kita kalau aksi bukan hanya sekedar aksi tapi kami aksi atas dasar bentuk kekecewaan kita dengan apa yang terjadi di negara,” tuturnya. (cr15/pra/by)

Jogja Utama