JOGJA – Ada yang berbeda di Pasar Beringharjo. Seluruh buruh gendong di pasar rakyat terbesar di DIJ itu, Jumat (10/5) meluangkan waktu belajar mengaji Alquran. Salah satunya Isah.

Perempuan 45 tahun itu dengan terbata-terbata melafalkan satu per satu huruf hijaiyah. Yang tertulis dalam buku Iqra.

”Dulu pernah ngaji, tapi berhenti. Itu juga sudah lama,” tutur Isah usai menyelesaikan giliran mengaji.

Bagi Isah, mengaji di sela kesibukkannya sebagai buruh gendong merupakan kesempatan langka. Apalagi, Isah menyadari kemampuannya mendaras Alquran masih di bawah standar.

”Saya pengin tahu dan bisa membaca (Alquran),” ucap perempuan asal Kulonprogo ini.

Dari itu, Isah benar-benar memanfaatkan kesempatan belajar mengaji. Toh, peminta jasa gendong bersedia menunggu hingga proses belajar mengaji selesai.

”Harapannya, pelatihan (belajar mengaji, Red) diadakan terus. Teman-teman yang belum masuk biar bisa ikutan,” harapnya.

Menurutnya, profesi buruh gendong di Pasar Beringharjo telah dijalani selama sembilan tahun. Meski, Isah hanya mendapatkan Rp 3.000 hingga Rp 5.000 sekali memberikan jasa gendong.

”Di rumah ada pekerjaan membuat kerajinan. Tapi, uangnya tidak diberikan langsung,” tutur Isah menyebut penyebab lebih tertarik dengan profesi buruh gendong.

IQRA: Enam buruh gendong bergantian mengaji diampu oleh dua ustadah. Program Buruh Gendong Mengaji diadakan setiap hari di sela rehat sambil melepas lelah. (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

Kelas belajar mengaji di Pasar Beringharjo digelar setiap Jumat selama Ramadan. Mulai pukul 13.00 hingga pukul 14.30. Bagi yang masih dalam tahap mengeja dikelompokkan menjadi satu. Sedangkan yang cukup fasih dibuatkan kelas terpisah. Kelas belajar mengaji ini digagas BMT Beringharjo.

Ustadzah Nurul Falati mengaku puas bisa menemani buruh gendong belajar mengaji. Meski, perempuan 27 tahun itu harus ekstra sabar.

”Karena memang lebih sulit mengajar orang tua dibanding anak-anak,” tuturnya. (cr8/zam/fj)

Jogja Utama