JOGJA – Kualitas bawang putih impor yang dipasok pemprov ke pasar rakyat mengecewakan. Kondisi bawang putih jenis kating dan sinco yang diimpor dari China itu telah membusuk.

”(Bawang putih) sincone ambyar. Nggak berani jual. Lha wong barange busuk,” ketus Adi, seorang pedagang bumbu dapur di Pasar Beringharjo, Rabu (8/5).

Adi ikut memborong ketika pemprov bersama pemkot menggelar operasi pasar. Dia membeli 30 kilogram (kg). Isinya, bawang putih jenis kating dan sinco. Harganya Rp 35 ribu per kg.

Adi tak menampik kualitas bawang putih kating cukup bagus. Namun, kondisi bawang putih jenis sinco yang dia beli telah membusuk.

Narti, seorang pedagang lainnya, mengeluhkan hal serupa. Dia kecewa lantaran telanjur membeli dua karung bawang putih sekaligus. Lantaran kondisinya tak sesuai harapan.

Guna meminimalisasi kerugian, Yati memilih menjualnya dengan harga murah. Dengan harga Rp 10 ribu-Rp 20 ribu per kg.

”Bagaimana lagi, lha wong busuk dan sudah terbeli. Yang penting terjual, berapa pun harganya, daripada terbuang,” keluhnya.

Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Jogja Yunianto Dwi Sutono berdalih telah melakukan yang terbaik untuk menstabilkan harga bawang putih di pasaran.

”Kalau memang ada yang busuk, bawang kan sifatnya memang nggak tahan lama, apalagi barang impor,” dalihnya.

Kendati begitu, pemprov tetap memasok bawang putih impor. Apalagi, pemprov mendapatkan pasokan 30 ton. Hingga sekarang yang telah didistribusikan baru delapan ton.

Yunianto optimistis harga bawang putih bakal kembali stabil. Toh, harga bawang putih kating saat ini telah di turun di angka Rp 48 ribu per kg.

”Saya optimistis menjelang Idul Fitri akan stabil harganya, karena pasokannya ada,” tuturnya.

Selain bawang putih, disperindag juga berencana menggelar operasi pasar berbagai komoditas lainnya. Seperti beras, gula, dan tepung.

”Kami upayakan harganya di bawah harga pasar. Itu untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menyambut Idul Fitri,” tambahnya. (cr15/zam/fj)

Jogja Utama