SLEMAN – Terik matahari tak menyurutkan semangat warga Dusun Rajeg Wetan, Tirtoadi, Mlati, Sleman mengikuti kirab budaya sadran agung, Jumat (3/5). Ratusan orang tumpah ruah memenuhi jalan-jalan kampung. Tua muda, lak-laki perempuan, bahkan anak kecil pun tumplek blek mengikuti kirab budaya yang baru pertama kali diselenggarakan itu.

Sadran agung sekaligus menandari lahirnya Desa Wisata Rajeg Wetan. Lebih familier disingkat Dewi Rawe. Desa wisata ini digagas sejak Februari 2019.

SIMBOL KEMAKMURAN: Tiga bocah menyaksikan kirab gunungan berisi sayur mayur dan buah-buahan dalam sadran agung Dewi Rawe, Jumat (3/5). (ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA)

Fasilitator Dewi Rawe Wahjudi Djaja mengatakan, pemerintah gencar membangun desa. Salah satunya lewat pencanangan desa wisata. Nah, lahirnya Dewi Rawe dalam rangka turut menyukseskan program pemerintah itu. “Desa merupakan kunci kedaulatan,” ungkapnya.

Wahjudi berpendapat, pembangunan desa wisata harus berbasis masyarakat. Artinya, masyarakat wajib terlibat dalam pengelolaan maupun atraksi yang disajikan. “Ketika masyarakat tidak dilibatkan, padahal nantinya untuk masyarakat pula, maka yang terjadi justru kanibalisme desa wisata,” ucapnya.

Pendapat Wahjudi sekaligus sebagai kritik. Untuk desa-desa wisata yang lebih berorientasi outbound sebagai sarana ‘jualan’. Padahal setiap desa punya budaya yang bisa ditonjolkan. “Seperti di sini ada peninggalan sejarah. Nah, itu yang kami angkat,” jelas Wahjudi.

Di Dewi Rawe sedikitnya ada tujuh peninggalan prasejarah. Berupa bangunan joglo, pendapa, dan limasan. Salah satunya Ndalem Sastro Sudarmo. Bangunan ini kini difungsikan menjadi Pusat Kebudayaan Sastro Sudarmo sekaligus Museum Budaya Agraris Rajeg Wetan. “Ini yang pertama di Sleman dan DIJ,” ujarnya.

Selain itu, wanadesa dan pasar papringan juga menjadi unggulan Dewi Rawe. Meski ada polesan, Wahjudi memastikan tidak ada perubahan radikal pada wajah dusun. Warga dan pengelola Dewi Rawe membiarkan desa apa adanya. Hal itu sebagai bagian upaya mempertahankan jati diri dan karakter desa itu sendiri.

Adapun prosesi sadran agung dimulai dengan arak-arakan empat gunungan hasil bumi dan dua ogoh-ogoh raksasa. Kirab sejauh kurang lebih dua kilometer mengelilingi Dusun Rajeg Wetan. Ada ritual lain di sela sadran agung. Berupa merti Kali Bedhog. Dipimpin sesepuh desa. Setelah semua ritual selesai, empat gunungan diusung ke lapangan desa untuk diperebutkan oleh warga.

Sumehsih, 53, warga Dusun Rajek Lor, mengaku sangat antusias menyambut sadran agung. Dia rindu dengan suasana seperti itu karena sudah lama tak menjumpai acara berbalut budaya di sekitar tempat tinggalnya. “Tentu senang dengan acara seperti ini,” katanya.

Menurutnya, kirab budaya sangat menarik dijadikan kegiatan rutin tahunan. Sebagai salah satu cara melanggengkan tradisi dan warisan nenek moyang. Agar generasi muda tahu akan tradisi budaya dan tak terjebak dengan arus modernisasi. Lebih dari itu, pentas budaya diyakini bakal menjadi magnet bagi wisatawan luar daerah untuk hadir ke Dewi Rawe. “Yang terpenting acara ini membuat masyarakat lebih erat, guyub, dan rukun,” ujar perempuan paro baya itu. (har/yog/rg)

Jogja Utama