SLEMAN – Sukardi terkejut mendapati rumahnya rusak berat Kamis (4/4) sore. Sebatang pohon sawo setinggi 10 meter nangkring di bagian atap. Merobohkan genting dan plafon. Pohon itu tumbang saat hujan deras sore itu. Sekitar pukul 15.00. “Saat itu hanya istri yang di rumah. Saya sedang kerja,” ungkap Sukardi di rumahnya, Dusun Konteng, Sumberadi, Mlati, Sleman, Jumat(5/4).

Sukardi merasa beruntung. Hanya rumah bagian belakang yang rusak parah. Sedangkan istrinya selamat. Tanpa luka sedikit pun.

Semalaman Sukardi dan istrinya terpaksa harus menumpang tidur di rumah tetangga. Sebab, pohon sawo yang menimpa rumahnya tak bisa dievakuasi Kamis malam itu. Tapi baru bisa dievakuasi kemarin pagi. Itu lantaran ada sarang tawon cukup besar di batang pohon itu. Selain pertimbangan serangan lebah, evakuasi pohon ditunda karena struktur bangunan rumah sudah rapuh.

“Kondisi sudah gelap saat itu. Makanya nunggu cerah dulu. Sarang tawon dibersihkan dulu tadi (Jumat(5/4)),” ucapnya.

Kabid Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan menjelaskan, kejadian hujan dan angin kencang saat itu berdampak sangat merusak. Meski nihil korban jiwa maupun luka. Dari laporan yang dia dapatkan ada 34 titik terdampak. Tersebar di empat kecamatan: Turi, Gamping, Sleman, dan Mlati. “Sebagian besar pohon tumbang.

Ada juga yang menyebabkan atap beterbangan,” ungkapnya.
Semua pohon yang melintangi jalan dan menimpa rumah telah dibersihkan oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Sleman.
Makwan mengimbau masyarakat tetap waspada menghadapi situasi cuaca yang tak menentu.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Djoko Budiyono menjelaskan untuk bulan April curah hujan diprediksi berkisar antara 101-300 mm/bulan. April ini termasuk masa pancaroba.

Musim kemarau di sebagian besar wilayah DIJ diperkirakan mundur. Untuk Gunungkidul dan Bantul bagian timur diperkirakan kemarau terjadi pada dasarian 3 April 2019. Selanjutnya untuk wilayah lain akan masuk kemarau pada dasarian 1 atau 2 pada Mei 2019. “Terakhir masuk kemarau di wilayah lereng Merapi,” jelas Djoko. (har/yog/mg2)

Jogja Utama