JOGJA – Serangkaian agenda digelar untuk memperingati 30 Tahun Tinggalan Jumeneng Dalem atau Peringatan Ulang Tahun Kenaikan Takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Salah satunya, pameran manuskrip. Pameran yang menampilkan dokumen-dokumen peninggalan keraton yang sempat hilang itu telah dipamerkan selama kurang lebih sebulan. Rencananya, Sabtu (6/4) pameran itu resmi ditutup.

Nah, Beksan atau Tari Golek Menak menjadi salah satu penampilan yang akan disuguhkan dalam acara penutupan itu. Menurut Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro, Beksan Golek Menak menjadi tarian spesial. Sebab, tarian khas Keraton Ngayogyakarta itu diinisiasi HB IX. Gerakan, jogedan, hingga sabetan-nya mengandung spirit wayang golek atau wayang kulit. Meski, tarian tersebut dibawakan para penari.

Selain dari segi gerakan, alasan Beksan Menak ditampilkan adalah banyak manuskrip yang turut dipamerkan, memuat kisah tentang tarian tersebut.
”Termasuk salah satu cerita yang kembali dari London, Inggris adalah tentang Golek Menak,” ujar KPH Notonegoro saat ditemui di Bangsal Pagelaran, Keraton, Kamis(4/4). Dalam sejarah, Beksan Menak baru dua kali ditampilkan. Pada 1941 diperkenalkan kembali HB IX.

KMT Suryo Waseso, sutradara Tari Golek Menak mengatakan, persiapan tari dilakukan sejak awal Maret. Hingga kemarin, persiapannya sudah mencapai 90 persen. Ada 56 penari yang terlibat. Seluruhnya dari kelompok kesenian asli keraton. Yakni, Kawedanan Hageng Punakawan Kridhamardawa. Sedangkan pemusik yang dilibatkan 35 orang.

”Kita masih ada dua kali latihan sampai hari H nanti,” katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan makna tarian Golek Menak diambil dari Serat Menak. Mengacu pada wayang kulit. Maknanya adalah tentang penyebaran Islam. Khususnya di Jogjakarta.

Sementara itu, tradisi Ngapem dilakukan oleh putrid-putri HB X beserta GKR Hemas di Bangsal Sekar Kedhaton kemarin pagi. KRT H Jatiningrat, sejarawan keraton mengungkapkan, tradisi Ngapem adalah bentuk doa dan pengampunan. Biasanya, sebelum memulai tradisi Ngapem akan diadakan Ngebluk. Yakni, membuat adonan satu hari satu malam.

“Nantinya setelah Ngebluk akan dilihat oleh GKR Hemas. Calon apemnya akan menjadi mrusuh (mengembang) atau gagal,” kata pria yang akrab disapa Romo Tirun itu. Tradisi Ngebluk itu pun tak luput dari doa-doa.

Tradisi itu menjadi salah satu rangkaian peringatan ulang tahun kenaikan takhta Sri Sultan HB X. Meski pada masa HB IX, tradisi itu diubah menjadi perayaan hari lahir. Sebab, HB IX tak mau merayakan kenaikan takhtanya yang diangkat oleh Belanda. (cr9/zam/mg2)

Jogja Utama