JOGJA – Gubernur Hamengku Buwono X mengatakan, Pemprov DIJ tidak tinggal diam menyikapi persoalan di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Piyungan yang kini tutup karena diblokir warga. Dalam rapat-rapat sebelumnya, ia telah meminta sejumlah pihak terkait untuk mengatasi masalah ini, sehingga TPST bisa dibuka kembali.

“Tapi harapan saya sebetulnya bagaimana bisa menghindari bau itu,” ujar Gubernur HB X saat menjawab pertanyaan wartawan di Kepatihan, Selasa(26/3). Dikatakan, bau yang timbul di TPST Piyungan disebabkan adanya bakteri yang berpengaruh pada pembusukan.

Untuk mengatasi bau itu, gubernur ingin pihak-pihak terkait bisa menemukan obat dan alat yang bisa mengurangi bau. “Jadi saya minta tadi, coba dicarikan obat sebagai salah satu jalan keluar,” ungkapnya.

Terkait penggunaan alat teknologi untuk mengatasi TPST Piyungan, hingga kini Pemprov DIJ masih memerlukan investor. Sebab untuk menghadirkan teknologi tersebut biayanya tidak murah. Kendati demikian, pemprov terus berupaya mencari solusi yang paling baik.

Lebih dari itu, HB X sebenarnya ingin ada suatu teknologi yang tak hanya mengubah sampah menjadi kompos, tapi juga bisa menjadi listrik. “Tapi teknologinya sampai sekarang tidak semudah yang kita bayangkan,” ungkapnya.

Negosiasi dengan para ahli dari luar negeri pun sudah dilakukan. Misalnya dengan Prancis, Finlandia, Jerman, dan Jepang. Namun masalah TPST ini dinilai masih tanggung. Artinya, sampah di TPST Piyungan belum melampaui kapasitas volume yang menjadi batasan.

Selain itu, untuk mengatasi jalan yang rusak gubernur telah melakukan rapat penyelesaian. Tidak hanya jalan yang rusak, jalan yang licin karena air bercampur sampah juga menjadi perhatian Pemprov DIJ. Keadaan itu bukan saja membuat jalan licin, tapi bau menyengat.

Di sisi lain, tumpukan sampah yang overload di TPST Piyungan tak hanya berpengaruh pada kebersihan lingkungan, namun juga kesehatan. Sampah-sampah yang berserakan di beberapa depo akibat ditutupnya TPST Piyungan, lambat laun akan mempengaruhi kesehatan masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ Pembajun Setyaningastutie mengatakan, dampak kesehatan yang bisa muncul disebabkan oleh tak hanya sampah rumah tangga. Tetapi juga sampah-sampah industri kecil yang mengandung bahan-bahan berbahaya. “Itu yang kami khawatirkan,” ujar Pembajun.

Untuk mengurangi penumpukan sampah, Pembajun menyarankan kepada masyarakat untuk lebih pandai dan cerdik dalam mengolah sampah. Dimulai dengan cara yang sederhana, yakni memilah sampah rumah tangga. Seperti memisahkan sampah yang tidak bisa hancur. “Itu bisa di-reuse atau di-recycle,” tuturnya. Kekhawatiran lainnya sampah tersebut bisa menjadi sumber infeksi.

Kadinkes lalu menyoroti keberadaan hewan ternak yang ada di TPST Piyungan. Sebab, hewan-hewan tersebut bisa saja mengonsumsi sampah di TPST, sehingga disarankan terhadap hewan-hewan ternak itu diteliti atau diperiksa oleh pihak berwenang.

Selain infeksi, penyakit-penyakit ringan seperti diare juga perlu diperhatikan. Yang paling parah dari dampak tersebut adalah apabila sudah terjadi keracunan. Dinkes DIJ meminta secara tegas kepada penyedia fasilitas-fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan klinik, agar mulai memilah sampah atau limbah medis.

RS Sardjito misalnya, menjadi salah satu contoh rumah sakit yang baik dalam pemilahan sampah medis dan fisik. Tak hanya memilah, RS Sardjito bahkan mampu memanfaatkan sampah menjadi barang-barang berguna.

Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Cipta Karya, Dinas Pekerjan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) DIJ Muhammad Mansyur mengatakan, skema KPBU (Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha) terus berlangsung, meski TPST saat ini tengah mengalami kendala. Untuk pembangunan talud, anggarannya akan diturunkan tahun ini.

Bank Sampah, Ibarat Angin Lalu

Eksistensi bank sampah di wilayah Kota Jogja tidak semulus harapan. Setidaknya dari kisaran 400-an bank sampah, tidak semuanya aktif. Padahal jika dikelola secara matang, mampu mengurangi volume sampah perkotaan.

Ketua bank sampah RW 04 Gunung Ketur Pakualaman Rina Agutiati Umbara mengakui adanya kendala. Wilayahnya memiliki anggota 30 kepala keluarga. Dari total keanggotaan itu, hanya sepertiga atau 10 KK yang aktif.

“Konsep awal dari bank sampah memang peran aktif masyarakat. Saya akui di wilayah RW kami tidak terlalu efektif, karena memang butuh disiplin tinggi untuk menjalankan programnya,” jelasnya saat ditemui di kediamannya, Ndalem Brotodiningrat, Gunungketur, Pakualaman, Selasa(26/3).

Keaktifan lanjutannya ibarat angin lalu. Terutama saat awal berdiri maupun ada lomba bank sampah. Padahal program harus berjalan konsisten tanpa embel-embel. Di satu sisi pemanfaatan bank sampah mampu mendatangkan nilai ekonomi.

Dari program berjalan hanya pengolahan sampah dapur yang relatif baik. Limbah sayuran diolah menjadi campuran pupuk kompos. Untuk kemudian digunakan secara mandiri. Begitu pula dengan dedaunan dari tanaman dan pohon milik warga.

“Kalau untuk pengolahan kompos sudah lumayan berjalan. Digunakan untuk kelompok tani perkotaan di wilayah sini (Gunungketur). Biasanya untuk kelompok pengembang tanaman anggrek dan tanaman obat keluarga,” ujarnya.

Berbanding terbalik, bank sampah RW 10 Prawirodirjan, Gondomanan justru berjalan baik. Terbukti kelompok ini mampu menyetor rutin setiap dua minggu sekali. Seluruh sampah disortir sesuai jenisnya, plastik, kertas maupun logam.

Setiap warga di kawasan itu otomatis menjadi nasabah bank sampah. Ketua bank sampah RW 10 Prawirodirjan Jumiati, 55, mengungkapkan, sampah botol plastik mendominasi wilayahnya. Terbukti saat penukaran terakhir Senin (25/3) terkumpul 40 kilogram.

“Iya paling banyak jenis botol air kemasan. Dulu memang sempat diajarkan membuat ecobrick dari botol plastik. Tapi kami putuskan untuk jual saja, termasuk sampah kertas dan logam,” jelasnya.

Sejak pertengahan 2018, kelompok ini sudah melakukan 11 kali penimbangan. Hasilnya kemudian diinventarisasi oleh pengurus. Selanjutnya dibagikan kepada para nasabah penyumbang bank sampah. Bahkan saking banyaknya, kelompok dibagi menjadi dua penyetoran.

Bendahara bank sampah Surtini, 59, memastikan manfaat bank sampah terasa. Meski secara nominal tidak besar, mampu menekan volume sampah kota. Terbukti warga kawasannya jarang membuang sampah di TPS Purawisata.
“Semua ada nilai nominalnya, botol sama tutup botolnya adanya nilai sendiri.

Kardus wadah odol itu juga bisa dijual, masuknya jenis dupleks kardus. Terakhir menimbang untuk dupleks dapat 25 kilogram,” jelasnya. (cr9/dwi/laz/mg2)

Jogja Utama