SLEMAN-Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran, Senin (25/2). Meluncur sejauh 1,1 kilometer. Sekitar pukul 11.24. Berdurasi 110 detik. Mengarah ke hulu Kali Gendol, Cangkringan, Sleman. Awan panas guguran (piroklastik) berpotensi menimbulkan hujan abu. Seperti terjadi di wilayah Kecamatan Dukun dan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dua wilayah tersebut diselimuti abu vulkanik sekitar pukul 12.00. Sekitar setengah jam pasca luncuran piroklastik.

Meski tak menyurutkan aktivitas warga setempat, fenomena alam itu cukup mengagetkan mereka. “Usai rapat kami kaget kok jok sepeda motor tampak putih. Ternyata abu vulkanik,” ungkap Kades Dukun Tanto Heryanto.

Menurutnya, hujan abu sangat tipis. Terjadi sekejap. Tak lebih dua menit. Sehingga tak mengganggu kegiatan harian masyarakat. Termasuk petani di sawah. Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Magelang Edy Susanto  memastikan, hujan abu hanya terjadi di wilayah Dukun dan Sawangan bagian atas. Tidak sampai ke wilayah yang lebih rendah atau jalan raya.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida membenarkan adanya abu vulkanik sebagai dampak piroklastik.

“Awan panas itu membawa material abu vulkanik,” katanya. Menurut Hanik, gejala alam itu termasuk wajar. Merapi sedang memasuki fase awan panas. Hujan abu merupakan dampak lontaran piroklastik tersebut. Kendati demikian, Hanik mengimbau masyarakat tenang. Namun tetap waspada.

Hanik memastikan fase luncuran awan panas tergolong aman. Karena jarak luncuran tak lebih tiga kilometer dari puncak Merapi. Berdasarkan data BPPTKG, jarak terjauh luncuran awan panas mencapai dua kilometer. Terjadi pada Kamis (7/2) lalu.

Hingga Senin (25/2) tercatat telah terjadi 13 kali luncuran awan panas. Sejak Selasa (29/1), Senin (11/2), Senin (18/2), dan kemarin. Meski terus bergejolak, BPPTKG belum akan mengubah status Merapi. Tetap level II (waspada). Dan belum terjadi deformasi. Pertumbuhan kubah lava total per Januari lalu 460 ribu meter kubik. Rata-rata laju pertumbuhan harian mencapai 1.000 – 3.000 meter kubik.

Hanik juga memastikan tak ada fenomena suara atas gejolak Merapi. Ihwal dentuman yang disebut-sebut berasal dari arah Merapi, menurut Hanik, bisa berasal dari kilat atau petir saat hujan di puncak. “Kalau ada suara gemuruh pasti kami infokan,” ujarnya.

Selain di BPPTKG, kondisi Merapi dipantau dari lima pos pengamatan. BPPTKG mengandalkan beragam peralatan modern untuk memantau deformasi, seismik, kimia, hingga infrasonar. Juga kamera CCTV di kawasan puncak. Hanya, diakuinya luncuran awan panas kemarin tak terpantau CCTV karena terhalang kabut.

Terpisah, Kepala Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang Sunarta mengatakan, pertumbuhan kubah lava Merapi cenderung sangat lambat. Karena langsung menjadi guguran lava pijar. Gejala itu diikuti beberapa kali gempa vulkanik dangkal. “Secara kualitas kegempaan ada peningkatan,” katanya.

Gempa vulkanik dangkal pada kedalaman kurang dari 1.500 meter di bawah permukaan tanah. Dengan adanya gempa tersebut suplai magma tetap berlangsung. ” Minggu (24/2) terjadi dua kali gempa vulkanik dangkal. Sebelumnya juga sering terjadi,” ungkap Sunarta. (dem/dwi/har/yog/tif)

Jogja Utama