Layanan surat berperangko boleh jadi kian tergusur teknologi internet. Masyarakat telah dimanjakan dengan email hingga aplikasi komunikasi modern via telepon pintar. Namun tak demikian halnya dengan layanan jasa paket. Kemajuan teknologi informatika membuat penyedia jasa paket kebanjiran rezeki.

PERKEMBANGAN industri layanan jasa pengiriman paket dan kurir dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami peningkatan. Itu seiring tumbuh suburnya bisnis penjualan barang secara daring. Atau lebih dikenal e-commerce. Toko-toko online menjamur. Sudah pasti pengusaha toko online mengandalkan jasa kurir atau perusahaan jasa pengiriman paket. Untuk memastikan barang dagangan sampai ke tangan konsumen.

Maraknya online shop tak lepas untuk memudahkan masyarakat memenuhi kebutuhan. Baik kebutuhan primer, sekunder, hingga tersier. Apa pun tersedia. Tinggal “klik” gambar barang yang diinginkan, pilih jasa kurir, lalu bayar. Sistem pembayarannya pun relatif mudah. Bisa transfer bank atau lewat anjungan tunai mandiri. Maupun dengan e-money.

Bagi pemilik online shop , kemajuan teknologi memudahkan untuk pemasaran barang dagangan. Pun pengirimannya bisa sampai ke pelosok negeri. Bahkan luar negeri.

Imelda Dimetri dan Carren Claudia Fransisca, misalnya. Pemilik usaha Camelchange.id itu menawarkan dagangan mereka lewat media sosial. Khususnya Instagram. Mereka juga bergabung dengan online market place, seperti Shopee, Tokopedia, dan Line Shopping.

“Harapannya memang untuk menjangkau ke seluruh Indonesia,” ujar Imelda kepada Radar Jogja Minggu (17/2).

Usaha mereka pun berkembang pesat. Konsumen berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Nah, berkembangnya online shop berimbas pada usaha jasa kurir dan layanan pengiriman paket.

Manager Distribusi dan Transportasi Kantor Pos Plemburan Yogas Towo mengamini adanya kenaikan pengiriman paket. Menyusul maraknya online shopping. Terlebih maraknya penawaran gratis biaya kirim dengan minimal pembelian tertentu.

Setiap hari tak kurang 1.637 kantong masuk Kantor Pos Plemburan. Kiriman paket tersebut dari seluruh kantor pos cabang dan agen yang ada di DIJ. “Paket juga datang dari Wonosobo, Magelang, Temanggung, dan Klaten yang akan dikirim ke luar lagi nantinya,” jelasnya.

Kenaikan layanan penerimaan dan pengiriman paket secara drastis tercatat sejak 2018. Pada Januari 2018 paket diterima sebanyak 133.362.000 kantong. Dengan berat 830.556.000 ton. Sedangkan paket dikirim 123.587.000 kantong. Beratnya 699.888.000 ton.

Lalu pada Januari 2019 paket diterima mencapai 139.182.000 kantong dengan berat 790.139.000 ton. Serta pengiriman paket berjumlah 130.462.000 kantong seberat 708.584.000 ton. “Di dalam kantong ada banyak macamnya. Dari paket online shop atau paket biasa,” ucapnya.

Berkembangnya bisnis e-commerce juga menjadi berkah bagi penyedia jasa ekspedisi. Head Regional JNE Jawa Tengah dan DIJ Marsudi memandang tren e-commerce sebuah peluang besar. Berdasarkan data arus pengiriman barang meningkat lebih dari 30 persen setiap tahunnya. Marsudi merinci, pada 2017 rata-rata pengiriman khusus e-commerce mencapai 12 – 14 juta paket per bulan. Lalu 2018 meningkat menjadi 16 – 18 juta paket. Saat ini meningkat lagi menjadi 20 juta paket per bulan.

Jenis paket didominasi kebutuhan personal. Seperti fesyen, makanan, keperluan rumah tangga, elektronik, dan gawai. “Untuk paket elektronik kami tawarkan asuransi demi keamanannya,” ujar Marsudi.

Akselerasi dalam proses pemilahan dan pengiriman paket menjadi fokus utamanya. “Bagaimana kecepatan dan jangkauan tepat sasaran demi kepuasan konsumen. Salah satunya pengiriman paket besar menggunakan truk,” ujarnya.

Distribusi menggunakan truk sangat terbantu dengan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah. Dulu pesawat menjadi andalan untuk pengiriman jenis paket tertentu. Saat ini jalan darat bisa bersaing. Efeknya berupa efisiensi waktu pengiriman paket. (cr9/cr7/dwi/yog/tif)

Jogja Utama