SLEMAN – Gunung Merapi terus bergejolak. Awan panas sempat terpantau kamera CCTV. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIJ. Luncuran awan panas sejauh dua kilometer ke arah Kali Gendol. Pun demikian lava pijar telah keluar dari mulut Merapi. Meski aktivitas Merapi terus meningkat, belum ada tanda-tanda evakuasi oleh penghuni lereng gunung teraktif di Indonesia itu.

Kendati demikian, Kepala Desa Kepuharjo, Cangkringan Heri Suprapto mengklaim, warganya telah siap. Menghadapi kondisi darurat kemungkinan terburuk erupsi. Jalur-jalur evakuasi telah dibangun. Secara swadaya. Sebagian besar kondisi jalur evakuasi berupa jalan aspal hotmix mulus. Hanya minim lampu penerangan jalan. Sehingga setiap malam gelap gulita. “Selama ini lampu penerangan jalan hanya dari swadaya masyarakat. Itu pun jumlahnya belum mencukupi,” ungkap Heri Selasa (12/2).

Menurut Heri, warga kesulitan memasang lampu penerangan jalan karena jarak dengan jaringan listrik terlalu jauh. Heri mengaku telah mengusulkan bantuan lampu penerangan jalan kepada pemerintah setempat. Namun sejauh ini belum ada tanggapan. “Paling tidak kami butuh 25 titik untuk dipasangi lampu,” jelasnya.

Penempatan lampu-lampu tersebut meliputi lokasi titik kumpul, jembatan, dan beberapa ruas jalan yang menjadi jalur utama evakuasi. Di antaranya: Jalan Kopeng – Tangkisan, Geblog – Tangkisan, dan Glagahmalang – Sidorejo. Kondisi jalan yang gelap saat malam dikhawatirkan akan menghambat proses evakuasi seandainya Merapi mengalami erupsi. Seperti ketika erupsi besar pada 2010.

Selama beberapa hari terakhir Heri mendengar suara gemuruh dari Merapi. Pun sebelum Merapi mengeluarkan guguran lava. Namun hal itu tak membuatnya khawatir. Demikian pula warga lainnya. Heri berpatokan pada rekomendasi BPPTKG DIJ. Bahwa radius tiga kilometer dari puncak Merapi masih terbilang aman.

“Saya sudah kasih batas untuk jarak aman. Supaya warga tak merumput ke luar batas. Yang saya khawatirkan justru wisatawan,” kata Heri. Dia mengimbau wisatawan untuk segera menjauhi aliran sungai saat mendengar suara gemuruh.

Kepala Desa Glagaharjo Suroto juga mengeluhkan masalah lampu penerangan di jalur evakuasi. Sejauh ini penerangan jalan hanya bersumber dari rumah-rumah warga. Masih ada sekitar tujuh kilometer jalur evakuasi tanpa lampu. Dari Pasar Butuh hingga Dusun Kalitengah Lor. Satu lagi, jalur evakuasi utama di jalan yang berbatasan langsung dengan wilayah Klaten, Jawa Tengah. “Kondisi jalannya cukup baik. Kalau (lampu penerangan, Red) dibilang kurang, ya kurang. Paling tidak butuh 15 titik lagi,” ungkap Suroto.

Selain lampu penerangan, rambu tanda evakuasi juga terbilang minim. Belum lama ini SAR Cangkringan telah menambah rambu di 10 titik. Mulai Dusun Tangkisan, Petung, hingga Wukirsari. Namun jumlah itu tetap dirasa kurang banyak. Apalagi rambu tersebut hanya berupa kain spanduk.

“Ini bagian dari mitigasi SAR Cangkringan,” ujar Komandan SAR Cangkringan Joko Irianto. Joko menegaskan, mitigasi bencana harus dimulai dari hal-hal kecil. Salah satunya menambah rambu evakuasi. Guna menekan risiko bencana.

Juru Kunci Gunung Merapi Mas Bekel Anom Suraksosihono mengatakan, fenomena yang terjadi di Merapi saat ini adalah hal wajar. ” Merapi biasa memang seperti itu. Justru kalau tidak ada lelehan lava itu tandanya tersumbat. Kalau tersumbat bahaya,” ungkap Mas Asih, sapaan akrabnya.

Asih mewanti-wanti masyarakat lereng Merapi untuk tetap waspada. Waspada bukan karena status Merapi saat ini pada level waspada. Tapi lebih kepada kesadaran diri menghadapi potensi bencana. “Masyarakat Merapi memang sejak dulu sudah waspada. Bukan karena statusnya, tapi memang harus waspada,” pesannya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Sleman Mardiyana menyatakan telah melakukan survei di delapan titik jalur evakuasi yang minim lampu penerangan jalan. Seperti wilayah Kepuharjo dan Sudimoro (Turgo). Mardiyana mengakui, pemasangan lampu penerangan di jalur evakuasi belum menyeluruh. Sebagian (lampu, Red) sudah di pasang. Sebagian lagi baru pengadaan,” katanya. (har/yog/tif)

Jogja Utama