(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

JOGJA – Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) masih menjadi andalan untuk mencegah peredaran penyakit demam berdarah dengue (DBD). Catatan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ hingga akhir Januari ini sudah tercatat 73 kasus di seluruh DIJ.

Menurut Kepala Dinkes DIJ drg Pembajun Setyaningastutie, dari jumlah tersebut temuan kasus terbanyak ada di wilayah Kabupaten Sleman. Sedang total kasus DBD di wilayah DIJ selama 2018 lalu mencapai 547 kasus dengan tiga orang meninggal dunia. “Hampir semua wilayah rawan dan perlu diantisipasi,” jelasnya Rabu (30/1).

Salah satu langkah yang diambil oleh Dinkes DIJ maupun kabupaten dan kota dengan menggalakan PSN. Diantaranya dengan gerakan 4M plus. Yaitu menguras, menutup dan memanfaatkan kembali barang bekas, serta membersihkan talang air. Menurut Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu, talang air di atas rumah sering diabaikan.

“Padahal jika tidak dibersihkan secara rutin, setelah hujan biasanya juga akan menimbulkan genangan dan bisa menjadi tempat perkembang biakan nyamuk aedes aegypti,” tuturnya. Endang juga mengingatkan tentang penting ikanisasi, yaitu cara pencegahan demam berdarah dengan memelihara ikan di dalam bak mandi. Hal tersebut dinilai ampuh memberantas jentik nyamuk. “Karena ikan akan memakan jentik-jentik tersebut,” tambahnya.

Selain itu Dinkes Kota Jogja juga sudah mengeluarkan surat edaran ke Puskesmas untuk mengingatkan setiap rumah memiliki juru pemantau jentik atau jumantik. Tugasnya untuk memeriksa di tempat penampungan air di rumahnya. “Satu rumah satu jumantik dan harus secara berkala melakukan pemantauan,” tuturnya.

Di Kota Jogja sendiri hingga akhir Januari ini sudah tercatat ada 14 kasus DBD dan tidak ada yang meninggal. Sedang di wilayah Sleman, data Dinkes Sleman sudah ditemukan 30 kasus DBD di Sleman juga tidak ada yang meninggal.

Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Sleman, Dulzaini menambahkan, tahun ini merupakan tahun keempat. Dimana setiap empat tahun sekali, jumlah kasus DBD di Sleman selalu mengalami peningkatan.

Untuk itu pihaknya meminta masyarakat agar menggalakkan kegiatan PSN. Persebaran nyamuk ini, kata dia, akan semakin banyak pada bulan Januari hingga Maret. Sebab, pada bulan tersebut merupakan puncak musim hujan.

“Kegiatan ini (PSN,red) harus terus dilakukan apalagi pada puncak musim hujan Januari-Maret, agar tidak ada air menggenang, sebab air mengenang adalah tempat berkembang biak nyamuk,” tegasnya.

Sama dengan di Kota, di wilayah Sleman juga dibentuk jumantik. “Untuk jumantik, kami lebih ke membangun karakter anak, baik dari sekolah maupun desa. Penting adanya edukasi untuk pemberantasan sarang nyamuk sejak dini,” ujarnya. (har/cr5/pra/fn)

Jogja Utama