PERUSAHAAN Listrik Negara (PLN) menjadi salah satu lembaga terdampak proyek Underpass Kentungan. Pelaksana PLN UP 3 Jogjakarta Yusuf Wibisono mengungkapkan, institusinya harus mengeluarkan anggaran hingga Rp 258 juta. Untuk perbaikan jaringan listrik terdampak proyek underpass.

Anggaran tersebut untuk biaya jasa pekerjaan jaringan Rp 108 juta serta pengadaan 15 tiang listrik baru Rp 150 juta. “Tiang listrik lama dibongkar,” ujarnya Sabtu (12/1).

Tiang listrik baru akan dipasang di lokasi yang berbeda. Digeser dari titik lokasi tiang lama.

“Pekerjaan jasa meliputi pemasangan tiang listrik baru, pembongkaran tiang lama, dan penambahan jaringan listrik,” jelas Yusuf.

Menurutnya, alokasi anggaran penggeseran tiang listrik dan penambahan jaringan berasal dari Unit Induk PLN Semarang. Dana tersebut tersedia sejak 2018. ”Kami sudah survei barang dan lokasinya,” katanya.

Manager PLN Jogjakarta Eric Pryo Nugroho menambahkan, Guna mengantisipasi pemadaman listrik, tiang dan jaringan baru rencananya dipasang lebih dulu. Sebelum tiang dan jaringan lama dibongkar. Agar aktivitas warga tetap bisa berjalan normal. Eric memastikan, PLN tak akan memutus arus listrik selama proyek pembangunan underpass.”Jadi kami akan dirikan dulu 15 tiang baru dengan jaringan listrik baru. Setelah semua teraliri listri, baru tiang lama dicabut,” paparnya.

Di bagian lain, proyek underpass mendapat tanggapan beragam dari warga Jogjakarta. Baik oleh kalangan pelaku usaha maupun warga sekitar Kentungan.
Widiono, penjual siomay ‘Mang Mudi’, mengaku tak mempermasalahkan proyek underpass. Meski usahanya bakal berdampak. Karena pelanggan bisa saja berkurang jumlahnya. Seiring kebisingan dan kemacetan lalu lintas.

“Sejauh ini belum berpengaruh pada penjualan. Selama proyek underpass berlangsung kami tetap buka,” katanya.

Sementara itu, Fadrun, 28, warga Gang Pandega Marta, mengaku maklum dengan kemacetan yang terjadi. Tapi itu tak masalah baginya. Karena Simpang Empat memang sudah jadi langganan macet sejak sebelum ada proyek underpass.

Kendati demikian, dia berharap ada polisi yang stand by di sekitar lokasi proyek underpass untuk mengatur lalu lintas. Juga di titik-titik jalur alternatif. Agar proyek tersebut tak menimbulkan kemacetan lain yang lebih parah di jalan-jalan lainnya.

“Psikologi masyarakat tentu terpengaruh. Pengalihan arus tentu akan berdampak kemacetan menumpuk di titik lain. Itu akan memicu stres,” katanya. (cr6/cr8/yog/fn)

Jogja Utama