Gas Melon Langka, Lagi Mahal
BANTUL – Tabung gas ukuran tiga kilogram kembali menghilang. Sejak sepekan terakhir konsumen di beberapa wilayah pinggiran di Kabupaten Bantul kesulitan mendapatkan tabung gas bersubsidi tersebut. Kalaupun ada, harganya di atas harga eceran tertinggi (HET), Rp 15.500 per tabung. Sekalipun di pangkalan.

Marwan, seorang warga mengungkapkan, sejak Senin (13/8) mengantre di salah satu pangkalan di Dusun Ngablak, Sitimulyo, Piyungan. Caranya dengan meninggalkan tabung gas di pangkalan yang terletak dekat dengan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Hanya, hingga Rabu (15/8) suplai tabung gas berwarna hijau tersebut di pangkalan tak kunjung ada.
”Biasanya beli di pangkalan dengan harga Rp 17.500 per tabung,” jelas Marwan saat ditemui di sekitar TPST Piyungan.

Seperti di Piyungan, warga di Kecamatan Banguntapan juga kesulitan mendapatkan tabung gas melon. Mawati, seorang pemilik toko kelontong mengaku sejak dua pekan terakhir tidak mendapatkan suplai tabung gas. Padahal, biasanya dia memperoleh pasokan seminggu sekali. Lalu, dari mana penyuplainya? Warga Dusun Demangan, Jambidan, Banguntapan ini berdalih tidak mengetahuinya. Sebab, penyuplai hanya datang dengan membawa mobil pikap berisi tabung gas melon.
”Biasanya dia menjual dengan harga Rp 20 ribu per tabung. Lalu, saya jual dengan harga Rp 22 ribu,” ucapnya.

Terkait kelangkaan, Mawati sudah mengetahuinya sejak dua pekan lalu. Saat itu penyuplai langganannya berujar bahwa suplai tabung gas pada Agustus bakal berkurang. Kendati begitu, Mawati tidak mengetahui penyebabnya.
Suwondo, seorang pemilik warung pecel lele mengungkapkan hal senada. Menurutnya, harga tabung gas melon sejak tiga hari terakhir terus merangkak. Dari Rp 17 ribu menjadi Rp 23 ribu per tabung. Kendati begitu, pria paro baya ini tak mempersoalkannya. Toh, kebutuhan tabung gas di warungnya cukup banyak. Sehari bisa mencapai empat tabung.

”Kalau warungnya sepi hanya dua tabung,” tutur pemilik warung pecel lele Lamongan di Jalan Pleret KM 2 ini.
Sementara itu, Yana Setia Budi, seorang pemilik pangkalan menegaskan bahwa suplai dari agen tidak mengalami kekurangan. Dari itu, warga Dusun Ngablak, Sitimulyo, Piyungan ini menengarai kelangkaan tabung gas melon akibat ulah konsumen. Tidak sedikit warga yang memiliki dua tabung. Itu terlihat dari banyaknya warga yang menitipkan tabung gas “cadangan” kosong di pangkalan. Di sisi lain, mereka masih memiliki tabung gas di rumah. Faktor inilah yang memicu pendistribusian tabung gas tidak merata.

”Sudah ada 40 tabung gas yang dititipkan di sini,” sebutnya.
Akibat ulah konsumen ini pula, stok tabung gas melon di pangkalan ludes terjual. Yana mencontohkan, Senin (13/8) pangkalannya mendapat pasokan dari agen. Hanya dalam sehari suplai seratus tabung gas tersebut langsung ludes. Padahal, Yana mengklaim, pangkalan telah menerapkan aturan pendistribusian. Yakni, 60 persen untuk rumah tangga dan 20 persen untuk usaha mikro. Sisanya untuk pengecer.

”Satu pengecer hanya diperbolehkan membeli tiga tabung. Sedangkan konsumen rumah tangga dibatasi empat tabung dalam sebulan,” ujarnya.
Ketika disinggung mengenai harga jual, Yana menyebut mematok Rp 16 ribu per tabung. Alias lebih mahal dibanding HET. Namun, Yana beralasan bahwa Rp 500 untuk kebutuhan operasional bank.
”Karena untuk setoran ke agen pakai banking,” katanya.

Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) DIJ Siswanto menyampaikan bahwa pasokan tabung gas melon aman. Seperti hari-hari biasanya. Dari itu, Siswanto menengarai kelangkaan akibat ulah konsumen. Itu diperparah dengan banyaknya warga yang punya hajatan menjelang Idul Adha. Kendati begitu, dia tetap menyarankan pemkab mengajukan kuota tambahan kepada Pertamina.

”Itu jika kuota harian dianggap kurang,” ucapnya.
Terkait tingginya harga, Siswanto punya analisa lain. Dia berpendapat banyak pengecer yang memborong tabung gas di pangkalan. Lalu menjualnya ke toko kelontong dengan harga cukup mahal.
”Padahal, untuk pengecer tak boleh lebih dari 45 persen dari kuota. Karena 55 persen untuk masyarakat,” ingatnya. (ega/cr8/zam/mg1)

Jogja Utama