TELADAN: Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (tengah) didampingi istri Tri Kirana Muslidatun turut menyemarakkan peringatan Hari Lingkungan Hidup Selasa (31/7). (GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

JOGJA – Perilaku buang sampah sembarangan sebagian warga Kota Jogja membawa dampak buruk bagi lingkungan. Bukan hanya sampah rumah tangga yang mencemari sungai. Popok dan kasur justru menjadi limbah terparah penyebab pencemaran. Bahkan mengakibatkan aliran sungai tersumbat. “Tak kurang 30 karung penuh popok bekas ditemukan ulu-ulu (petugas kebersihan sungai) setiap hari,” ungkap Kasi Pengendalian Pencemaran dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja Pieter Lawoasal Selasa (31/7).

Selain popok, limbah plastik juga banyak. Dibandingkan data tahun lalu, jumlah limbah sungai meningkat lebih dari dua kali lipat. Selama 2017 rata-rata 12 karung penuh popok bekas per hari. “Selain menyumbat (sungai, Red) limbah popok menyebabkan air sungai berbau tak sedap,” katanya.

Persoalan lain, popok merupakan benda penyimpan air kencing. Saat mengalir di sungai kotoran yang mengendap di dalam popok dikhawatirkan bisa meracuni ekosistem sungai. Selain itu, popok termasuk limbah yang tak mudah terurai.

Pieter mengatakan, popok dan kasur ditemukan ulu-ulu di sungai-sungai besar yang mengalir di Kota Jogja. Di antaranya, Code, Winongo, dan Gajahwong.
Kasur itu pun bukan benda biasa. Tapi biasanya kasur bekas dipakai orang yang telah meninggal dunia. Menurut Pieter, ada kebiasaan warga Kota Jogja melakukan hal itu. Pieter mengaku pernah mendapati kasur tersangkutnya di tiang jembatan sungai. Kasur tersebut, menurutnya, masih layak pakai. “Setelah ditelusuri ternyata benar, ada orang belum lama meninggal,” ungkapnya.
Pieter menegaskan, perilaku masyarakat seperti itu harus dihindari. Demi menjaga kebersihan aliran, Pieter mengusulkan adanya polisi sungai. Polisi sungai terutama bertugas mengawasi pembuangan limbah berbahaya atau tak lazim ke aliran sungai.

Dikatakan, ulu-ulu sudah sering memberikan edukasi masyarakat mengenai bahaya membuang limbah ke aliran sungai. Namun imbauan ulu-ulu seolah tak mempan.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja Suyana mengatakan, setiap hari masyarakat menghasilkan sedikitnya 51 ton sampah plastik. Jumlah tersebut seperlima dari total sampah di Kota Jogja yang mencapai 257 ton per hari. Jumlah sampah plastik cenderung meningkat tiap tahun. “Maka sejak awal harus dikendalikan,” tegasnya.

Gerakan seribu tumbler menjadi salah satu solusi yang terus dikampanyekan. Tumbler yang bisa diisi ulang akan menggantikan penggunaan botol air kemasan. Gerakan tersebut diharapkan bisa dipraktikkan di kantor-kantor maupun sekolah.

Demi suksesnya gerakan tersebut Suyana meminta seluruh pejabat Pemkot Jogja menjadi inisiator penggunaan tumbler di lembaga masing-masing. Atau setidaknya setiap kali rapat, para peserta diimbau membawa tumbler sendiri-sendiri.

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti menyambut baik deklrasi penggunaan tumbler sebagai pengganti botol air minum kemasan. Haryadi tak ingin hanya pejabat yang mengampanyekan penggunaan tumbler. Tapi seluruh aparatur sipil negara di lingkungan pemkot. Kendati demikian, Haryadi menyatakan belum akan membuat peraturan larangan pembelian air minum dalam kemasan botol. “Yang perlu dibangun dari awal adalah komitmen dan kesadaran mengurangi sampah plastik,” tuturnya

Selain gerakan seribu tumbler, pemkot juga terus mengampanyekan pengurangan sampah plastik. Di SMP Muhammadiyah 9 Jogja, misalnya. Para siswa berkreasi menggunakan botol bekas kemasan air mineral ukuran 1,5 liter dan 600 ml. Seperti dilakukan Jamal Aditya dan dua temannya. Mereka membuat kreasi wayang Werkudara. “Wayang plastik ini untuk melestarikan budaya Jawa,” ujar Jamal di sela kegiatan Insinyur Cilik.

Insinyur Cilik merupakan bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup 2018 tingkat Kota Jogja di Embung Langensari kemarin. (cr5/pra/yog/fn)

Jogja Utama