RADARJOGJA.CO.ID –Musibah kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang merenggut empat korban jiwa asal Kaliwungu, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (2/4) menjadi perhatian serius Pemkab Gunungkidul. Sebab, untuk kesekian kalinya medan berat jalur wisata Bumi Handayani menelan korban.

Minimnya rambu dan lampu penerangan jalan, ditambah kondisi cuaca yang tak bersahabat paling sering menjadi faktor penyebab kecelakaan. Sebagaimana diketahui, laka lantas di Pok Cucak, Sidorejo, Ponjong berawal dari kebingunan sopir yang lupa arah menuju objek wisata Pantai Indrayanti. Dia tak menyadari bahwa jalan tanjakan tajam yang dilaluinya mendadak berubah turunan terjal dan menikung. Sehingga mobil terguling setelah menabrak pohon mangga di kiri jalan. Selain akibat Isuzu Elf yang dikendarai Kiswoyo, 38, kelebihan muatan karena mengangkut 21 orang.

Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul Hari Sukmono tak menampik persoalan tersebut. Meskipun setiap tahun dinas pariwisata selalu memasang rambu penunjuk arah di jalur-jalur wisata. Rambu tersebut berciri warna cokelat dengan tulisan putih. Menurutnya, ukuran rambu tersebut sudah sesuai standar. Misalnya, di sekitaran Bundaran Siyono, Playen. Papan penunjuk arah menuju obyek wisata berukuran 2 x 3 meter persegi.

“Tapi masih ada anggapan ukuran kekecilan sehingga membingungkan wisatawan. Ini menjadi ‘PR’ bagi kami untuk memperbesar ukuran (rambu) nantinya,” ungkap Hari kemarin (3/4).

Selain ukuran, Hari mengakui jumlah rambu masih sangat kurang di titik-titik tertentu. Padahal, rambu menjadi kebutuhan penting demi pelayanan dan kenyamanan wisatawan. Terlebih Pemkab Gunungkidul sedang gencar-gencarnya membangun kawasan wisata sebagai potensi penarik pendapatan daerah. “Makanya (jumlah rambu penunjuk arah) terus kami perbanyak. Tidak ada kata finish,” lanjutnya.

Jumlah rambu lalu lintas juga sangat minim. Hari tak membantahnya. Padahal, idealnya, di setiap jalur rawan harus dipasang rambu peringatan berukuran standar agar bisa dengan mudah terlihat oleh pengguna jalan. Keberadaan rambu lalu lintas justru terkesan bertolak belakang dengan mulusnya jalan aspal hot mix yang menyelimuti sebagian besar jalur wisata.

Tanjakan dan tikungan tajam, serta jalan berliku-liku tak luput dari perhatiannya. Hanya, jalan tersebut dibangun menyesuaikan kontur geografis Gunungkidul yang memang berupa lembah dan perbukitan. Tak dipungkiri, sebagian besar kasus laka lantas yang melibatkan wisatawan terjadi di medan-medan berat jalur rawan. “Karena itu, guna mengurangi risiko kecelakaan kami berencana melakukan pengeprasan jalan tahun ini,” ucap Hari.

Sementara itu,KepalaDinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Gunungkidul Eddy Praptono mengatakan, normalisasi jalan demi keamanan pengendara kendaraan juga terus dilakukan. Jalur Wonosari- Pacitan, misalnya. Tahun lalu pemerintah telah mengepras ketinggian tanjakan di jalan nasional itu. “Dulu memang cukup tinggi. Tapi sudah diturunkan sekitar enam meter, sehingga saat ini agak landai,” jelasnya.

Ikhwal jalur Pok Cucak yang menjadi tempat kejadian perkara laka lantas rombongan wisatawan asal Kaliwungu, Eddy mengklaim, kondisi jalannya tergolong bagus. Kendati demikian, dia enggan mengomentari kasus tersebut dengan alasan penanganan perkaranya di instansi lain.

“Yang pasti, tahun ini kami ada pengeprasan dan pelebaran jalan menuju jalur wisata. Misalnya jalan di wilayah pesisir,” tegasnya.(gun/yog/mar)

Aman di Jalan