Sampah masih menjadi persoalan di kota-kota besar, termasuk di Jogja. Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIJ terus mengajak masyarakat dari lingkup terkecil yakni rumah tangga mengelola sampah dengan memilahnya. Gerakan ini menjadi salah satu cara mengurangi volume sampah.

DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja

Membuang sampah menjadi lifestyle atau gaya hidup yang terbangun atas dasar kesadaran. Jika di lingkungan keluarga sejak kecil dibiasakan membuang sampah pada tempatnya, maka akan memjadi gaya hidup positif.

Selain budaya itu, ada baiknya dibangun pula kesadaran mengelola sampah. Sebab, rumah tangga menjadi sumber awal sampah, di samping beberapa sumber lainnya.

“Ya mulai dari rumah tangga harus sudah mulai menerapkan 3R, reduce, reuse dan recylce,” ujar Kepala BLH DIJ Joko Wuryantoro di kantornya, kemarin (24/2).

Reduse berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan timbulnya sampah. Reuse artinya menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya. Sedangkan recyle bermakna mengolah kembali atau daur ulang sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat.

Bukan sebuah pekerjaan mudah membangun kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. Apalagi memilahnya menjadi sampah organik dan nonorganik. Karena belum semua masyarakat memahami apa itu sampah organik dan sampah nonorganik. Padahal, sampah organik masih bisa dikelola lagi menjadi sesuatu yang bermanfaat. Misalnya kompos.

Sedangkan sampah nonorganik bisa didaur ulang kembali. Terkait itu, alumnus Teknik Arsitektur UGM ini menerangkan, instansinya memiliki program pembinaan pengelolaan sampah mandiri. BLH DIJ sejak beberapa waktu lalu membentuk kelompok-kelompok masyarakat.

“Tahun ini setidaknya ada 40 kelompok yang akan kami bina dan tersebar di empat kabupaten dan kota,” ujarnya.

Selama membina dan mendampingi jejaring pengelola sampah mandiri (JPSM) memiliki peran penting dalam mengelola sampah. Dari survei jumlah timbunan sampah di DIJ mencapai 0,44 kg/orang/hari. Rinciannya jenis sampah organik sebesar 62 persen, nonorganik 28 persen, dan sampah residu yang benar-benar tak dapat dikelola sebanyak 10 persen.

Dari data tersebut menunjukkan peran kelompok masyarakat JPSM menyosialisasikan pengelolaan sampah melalui sistem 3R dinilai cukup berhasil. “Kami juga punya program bank sampah,” tutur pria yang hobi menyanyikan lagu-lagu Koes Plus ini.

Meski demikian, pria yang pernah menjabat kepala Biro Administrasi Pembangunan Setprov DIJ ini menyadari sarana dan prasarana seperti tempat pembuangan sementara (TPS) masih kurang. Itulah yang menjadi kendala di lapangan. Sebagian masyarakat masih memilih membuang sampah tidak pada tempatnya. Di antaranya ke ke sungai.

“Karena TPS masih kurang dan tidak terjangkau. Seharusnya sampah yang sampai di TPS juga sudah dipilah, sehingga volume sampah bisa berkurang. Dari kajian kami, setidaknya per orang per hari membuang 0,44 kg sampah,” ujar birokrat yang akrab disapa dengan panggilan Jokowur ini.

Jika kesadaran itu tumbuh, akan lebih banyak bank sampah yang hadir di tengah masyarakat. Bank sampah juga bisa menambah perekonomian masyarakat. Dengan adanya bank sampah membangun kesadaran masyarakat memilah, mengelola kembali dan mendapatkan manfaat dari sampah.

“JPSM dan bank sampah berjalan secara pararel membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat mengelola sampah. Kami juga punya gerakan Gropyok Sampah yakni gotong royong membangun kepedulian terhadap sampah,” ajaknya.

Jokowur menambahkan, upaya meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat mengelola sampah dimulai dari pribadi, komunitas hingga bangsa. Meningkatnya kepedulian itu diharapkan menjadi daya ungkit guna meningkatkan budaya bersih di masyarakat.

“Jadikan sampah sebagai sumber daya ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya semangat.

Kepala Bidang Pengembangan Kapasistas BLH DIJ Sri Lestari menginformasikan, keberadaan bank sampah setiap tahunnya terus bertambah. Ini menandakan kesadaran masyarakat mulai meningkat.

“Tapi memang harus terus dievaluasi, karena ada juga bank sampah tidak bertahan lama. Jadi kepengurusannya juga harus solid,” ujarnya.

Tahun lalu, BLH DIJ mulai mengevaluasi sekaligus memberikan penghargaan bagi bank sampah dengan pengelolaan terbaik. Ada dua kategori. Yakni pemula (dua tahun) dan lanjutan (dua tahun lebih). Bank sampah terbaik dari tiap kabupaten dan kota dinilai untuk kemudian dipilih yang terbaik. Evaluasi ini diadakan rutin setiap tahun.

“Itu yang bisa kami lakukan sebagai fungsi pembinaan. Bank sampah yang terbaik mendapatkan uang pembinaan yang digunakan mengembangkan dan menambah sarana prasarana bank sampah,” terangnya. (kus/laz/mg2)

Boks