Tiga bulan menjabat sebagai Kapolda DIJ, Brigjen Pol Ahmad Dofiri, 49, langsung mendapatkan tugas krusial. Yakni, mengamankan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2017. Keamanan wilayah DIJ menjadi tanggung jawabnya. Apa saja yang dilakukannya?

BAHANA,Sleman

AHMAD DOFIRI, seperti terlahir untuk Jogjakarta. Bagaimana tidak, berbagai posisi strategis di institusi kepolisian diraihnya di Jogjakarta. Jabatan Kapolda DIJ diduduki oleh lelaki berdarah Sunda ini.

Pada 2009, jenderal bintang satu ini menjabat sebagai Kapolrestabes Jogja, setelah sebelumnya di tahun yang sama menjabat sebagai Wakapolwiltabes Bandung, Jawa Barat.

Pada 2010, dia melepaskan jabatan Kapolrestabes Jogja dan kembali ke Mabes Polri. Hanya tiga tahun saja Dofiri meninggalkan Jogjakarta.

Pada 2013, dia pun kembali sebagai Wakapolda DIJ dengan pangkat Komisaris Besar (Kombes) Pol. Tak sampai setahun, penerima Adhi Makayasa lulusan Akpol 1989 terbaik ini kembali mendapat promosi ke Mabes Polri hingga mendapat kenaikan pangkat Jenderal.

Sebelum menjabat sebagai Kapolda DIJ, Dofiri menduduki berbagai jabatan seperti Karobinkar SSDM Polri pada 2014. Kemudian menjadi Kapolda Banten pada 2016 dan Karosunluhkum Divkum Polri di tahun yang sama.

Menjelang akhir 2016, Kapolri Jendral Tito Karnavian, memberinya tugas menjadi orang nomor satu di kepolisian DIJ. Dia menggantikan pejabat sebelumnya Brigjen Pol Prasta Wahyu Hidayat, yang juga mendapatkan promosi jabatan ke Mabes Polri.

“Pertama menginjakkan kaki di sini (Mapolda) sempat berdebar,” jelas Dofiri.

Hal itu bukan tanpa alasan. Jogjakarta, menjadi sebuah magnet yang seolah menariknya untuk kembali. “Jogjakarta memang punya kenangan tersendiri,” ujar pria yang murah senyum ini.

Ketika memulai melaksanakan tugas, Dofiri dihadapkan pada masa yang krusial. Dia akhir 2016, Jogjakarta melaksanakan momen cukup penting seperti perayaan Natal dan Tahun Baru.

Kedua momen tersebut kerap kali menjadi celah bagi pelaku kejahatan untuk menjalankan aksi. Upaya preventif dengan berbagai operasi yang digelar mampu mewujudkan suasana kondusif. Sebelum perayaan tahun baru misalnya, Dofiri begitu aktif turun langsung menyosialisasikan program Polda DIJ. Itu dilakukan dengan menemui warga yang ada di Jalan Malioboro dan sekitarnya.

“Pelayanan kami memberikan rasa aman dan nyaman. Kalau turun langsung ke bawah akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Sama halnya dengan pelaksanaan pilkada di dua wilayah di DIJ, yakni Pilwali di Jogja dan Pilbup di Kulonprogo.

Pria yang hobi jogging dan renang ini mengaku, sudah mempersiapkan pemetaan pengamanan Pilkada di Jogja dan Kulonprogo. Selain mengerahkan aparat kepolisian, dirinya dan pejabat polisi lainnya aktif melakukan kunjungan terhadap tokoh-tokoh yang ada di masyarakat. Harapannya, melalui tokoh ini imbauan-imbauan dari aparat, bisa sampai ke masyarakat yang ada di lapisan bawah.

“Sehingga ada kesadaran bahwa keamanan Jogjakarta ini milik bersama,” katanya.

Bila segala sesuatunya telah dipersiapkan dengan matang, sambungnya, yang tak kalah penting adalah berdoa. Tak heran, dalam kepemimpinannya kerap kali doa bersama digelar di berbagai tempat. Yang paling baru doa dan zikir bersama masyarakat dan para ulama di Tuksono, Sentolo, Kulonprogo pada Minggu (19/2) lalu.

“Dua golongan yang menentukan negeri ini yaitu para ulama dan umaro. Bila keduanya berjalan selaras dan seimbang niscaya akan aman dan nyaman,” katanya.

Sejauh ini dia menilai pelaksaan pilkada di DIJ relatif aman. Meski diakui masih ada riak-riak, namun hal itu tidak mempengaruhi keamanan dan ketertiban di Jogjakarta secara masif.

Dijelaskan, kemungkinan adanya gejolak sosial saat pelaksanaan pilkada sudah diprediksi. Terutama, pada pilkada yang perolehan suara tipis terjadi.

Untuk pengamanan, sambungnya, Polda sudah all outmengerahkan Brimob dan Sabhara untuk memberikan back-up kepolsian di kabupaten/kota. Tapi, pengerahan itu bukan untuk memberi kesan yang menakutkan.

“Jangan dianggap pengerahan personel bakal terjadi apa-apa. Pengamanannya yang sewajarnya. Aparat pun tidak ditempatkan di lokasi terbuka,” katanya.

Apa yang dikatakan Dofiri, setidaknya bisa terlihat saat pengamanan massa aksi salah satu pasangan calon (paslon) di depan Kantor KPU Jogja di Jalan Magelang, Kricak, Tegalrejo. Di sana, pasukan pengaman dari Polda tidak ditempatkan secara mencolok.

Selain itu, aparat kepolisian wanita (polwan) juga ikut dikerahkan dalam menjaga rekapitulasi suara. Para polwan, duduk membelah diantara saksi dari paslon satu dan dua.

“Pengamanan yang kami lakukan sifatnya humanis. Upaya-upaya preventif selalu dikedepankan dalam menjaga keamanan,” katanya. (ila/mg2)

Boks