Jatuh bangun menjadi hal biasa bagi Asnawi. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini sukses menuntaskan pendidikannya. Tanpa sokongan biaya dari orang tua, hanya bermodalkan kegigihan.

ZAKKI MUBAROK, Sleman

PAGI kemarin (22/2) menjadi pembuka hari yang sangat menyibukkan bagi Asnawi. Seabrek agenda menunggunya. Sebab, beberapa orang yang melekat dalam hatinya selama tinggal sekaligus menempuh pendidikan strata satu di Jogja harus ditemuinya untuk dipamiti.

Maklum, kemarin merupakan hari terakhir bagi pemuda kelahiran 28 tahun lalu ini berada di kota pendidikan. Selepas dirinya diwisuda 11 Februari lalu.

“Karena jam 11.00 juga harus berangkat ke Jakarta untuk menghadiri satu acara,” ucap Nawi, sapaannya, membeberkan alasan meminta Radar Jogja datang pagi hari.

Saat itu jarum jam di dinding rumah orang tua angkat Asnawi yang terletak di RT 16/RW 51 Pogung Rejo, Sinduadi, Mlati, Sleman menunjukkan pukul 07.45.

Ya, Asnawi memang ingin menikmati malam terakhirnya bersama ayah angkatnya Tulus dan ibu angkatnya Suparsi. Mereka, adalah dua orang yang membukakan pintu untuk Nawi saat dia menginjakkan kaki pertama kali di Jogja pada 2010 lalu.

Dalam perbincangan yang cukup singkat di salah satu bagian rumah yang disulap menjadi kios ini terungkap ada beberapa orang yang memang sangat berjasa.

Pasangan suami-istri Tulus dan Suparsi, misalnya. Nawi mengenal keduanya pada 2010 lalu. Kala itu, Nawi yang masih duduk di bangku kelas XI sebuah SMK menjadi salah satu peserta pertukaran pelajar Pangkal Pinang dan Kota Jogja.

Nah, Nawi menginap selama program pertukaran pelajar di rumah sederhana yang menghadap ke utara ini. Komunikasi ini berlanjut hingga Nawi lulus.

“Ingin lanjut ke Jogja karena paling nyaman dibanding Jakarta dan Bandung,” tuturnya.

Dua tahun kemudian persisnya pada pertengahan 2012, Nawi datang lagi ke Jogja. Dengan status sebagai calon mahasiswa. Pemuda dengan tinggi 178 sentimeter ini pun diminta tinggal lagi di rumah Tulus-Suparsi.

Kendati begitu, tak lama kemudian Nawi memilih menyewa rumah kontrakan di wilayah Rejowinangun, Kota Jogja. Bukan karena tak akur. Toh, keluarga baru Nawi ini ikut membantu mencarikan rumah kontrakan. Melainkan alasan Nawi ingin mandiri.

Nah, di titik inilah perjuangan nyata Nawi di Jogja dimulai. Seluruh isi tabungan dikuras. Sepeda motor hasil jerih payah Nawi selama di Pangkal Pinang juga dijual dan diganti dengan yang harganya lebih murah. Untuk dijadikan biaya menyewa rumah kontrakan sekaligus membuka usaha sup buah, mi ayam, dan pempek. “Ya biar bisa bayar kuliah juga,” ungkapnya.

Kendati begitu, usaha yang ditekuni pemuda yang hobi memancing ini tak berjalan lama. Hanya enam bulan. Nawi memilih pindah kontrakan di sekitar kampus UMY.

Salah satu tujuannya agar perjalanan ke kampus tidak begitu jauh. Walaupun rumah kontrakan ini tak sebagus sebelumnya. Hanya rumah berukuran 4×6 meter. Tapi, Nawi akhirnya memilih indekos saja. Sebab, jualan pempek dan sup buah yang menjadi andalannya merugi. Bahkan, sepeda motor bututnya ikut ludes terjual untuk menutup biaya kuliah.

Beruntung, Asda’i, sang pemilik indekos berbaik hati. Nawi diperbolehkan menggunakan seluruh fasilitas rumah yang didesain indekos itu. Termasuk di antaranya memanfaatkan selasar rumah untuk berjualan belakangan ini. “Orangnya juga sering nraktir makan. Sudah seperti keluarga sendiri,” ucapnya sumringah.

Di indekos ini pula, Nawi kembali bangkit. Dengan sisa-sisa uang, putra kedua Rastani-Rokilah ini merintis usaha barunya berupa jualan gorengan. Seperti tempe, tahu, bakwan, ubi, hingga kue bola.

Walau sempat seret, Nawi tidak patah arang. Dia tetap bersemangat berjualan di depan asrama putra mahasiswa UMY. Tempat tinggal sebagian rekan-rekannya di kampus. “Ngapain gengsi. Wong yang saya jual barang halal,” ujarnya.

Rutinitas berjualan apa tidak mengganggu perkuliahan? Kebetulan, saat merintis usaha baru ini Nawi menginjak semester IV. Sehingga mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis ini bisa mengatur jadwal perkuliahan.”Bahan-bahan sudah dipersiapkan mulai jam 04.00,” jelasnya.

Kegigihannya selama di Jogja ini tidak muncul begitu saja. Pahit getir membantu kedua orang tuanya mencari pundi-pundi rupiah sudah dialaminya sejak lulus SMP pada 2005.

Nawi bercerita, dia hidup di keluarga kurang mampu. Kedua orang tuanya sehari-hari hanya berjualan gorengan di Pangkal Pinang. Saking terbatasnya, mereka juga tak sanggup menyekolahkan Nawi ke jenjang SMA. Kendati begitu, Nawi tak berputus asa. Dalam kurun waktu empat tahun Nawi bekerja di berbagai tempat. Agar dia dapat menabung untuk keperluan mendaftar dan biaya sekolah.

Namun, kendala tetap selalu muncul. Pada 2009 dia pernah ditolak saat mendaftar di SMA negeri lantaran dianggap terlalu tua. SMK PGRI lah yang akhirnya bersedia menerimanya.

“Awal-awal sekolah sempat canggung. Teman-teman di kelas masih usia 14 tahun. Sementara saya sudah 19 tahun,” kelakarnya.

Kini, Nawi sudah menjadi sarjana. Namun, tekadnya menapaki jenjang pendidikan lebih tinggi masih membara. Karena itu, Nawi ingin kembali ke kampung halamannya sembari mempersiapkan berbagai persyaratan beasiswa LPDP strata dua.

“Ingin kuliah di UK atau Australia. Dengan fokus yang sama, ekonomi bisnis,” katanya. (ila/mg2)

Boks