JOGJA – Asap yang keluar dari lantai tiga toko Batik Raditya membuat heboh pengguna jalan di Malioboro, kemarin (21/2). Meski dalam kondisi hujan gerimis, asap terus terlihat bahkan makin pekat menyeruak dari toko batik milik Rudi Sustyawan itu.

Pedagang kaki lima (PKL) maupun warga yang melihat dari luar pun makin panik. Salah seorang PKL yang berjualan di depan toko batik, Warman mengisahkan, awalnya bau asap mulai tercium sekitar pukul 11.45. Dia dan pedagang lain mencoba mencari tahu asal bau tersebut.

Mereka pun melihat asap makin pekat keluar dari toko batik Raditya. Melihat itu, Warman meminjam alat pemadam ringan (APAR) dan masuk ke toko untuk melakukan pemadaman.

Awalnya, karyawan toko tidak tahu jika ada kebakaran. “Karyawan toko tidak ada yang tahu karena berada di lantai satu, padahal asap dari lantai tiga. Yang tahu malah yang di luar karena asap makin banyak,” ujarnya.

Warga sekitar juga akhirnya menghubungi Dinas Kebakaran Kota Jogja, setelah upaya pemadaman dengan APAR gagal karena asap yang pekat.

Petugas Dinas Kebakaran Kota Jogja yang datang sekitar pukul 12.30, awalnya juga kesulitan untuk masuk ke toko yang berada di seberang kompleks DPRD DIJ tersebut.

Menurut Kepala Seksi Operasional dan Penyelamatan Dinas Kebakaran Kota Jogja Mahargyo, petugas kesulitan masuk ke lantai tiga, tempat pusat api berada. Sebab, asap yang makin pekat dan terdapat barang yang mudah terbakar, seperti pakaian.

Upaya petugas yang masuk dengan menjebol pintu di lantai tiga juga gagal mencapai pusat api. “Akhirnya kami masuk dengan memecahkan kaca di lantai dua, pemadaman kami lakukan dari depan karena sulit masuk dari lantai satu,” ujarnya.

Pekatnya asap yang ditimbulkan bahkan membuat salah seorang petugas kekurangan oksigen dan dirawat di ambulans. Petugas yang lain pun mencoba mengeluarkan asap lewat alat khusus.

Setelah berusaha sekitar dua jam dengan mengerahkan empat mobil pemadam, sekitar pukul 14.30 petugas akhirnya bisa mulai menjinakkan api dan memulai proses pendinginan.

“Dugaan sementara karena korsleting, untuk kerugian kami belum tahu,” ujarnya.

Dari data Dinas Kebakaran Kota Jogja hingga kemarin, di awal tahun ini saja sudah terjadi delapan kasus kebakaran. Termasuk yang di Toko Batik Raditya Malioboro.

Kepala Bidang Penanggulangan Kebakaran Dinas Kebakaran Kota Jogja Herry Eko Prasetyo mengatakan, tren kebakaran di Kota Jogja mengalami penurunan. Pada 2015 lalu ada 66 kejadian kebakaran, 2016 lalu turun jadi 63 kejadian.

“Kebakaran ini kejadian yang tidak terpengaruh cuaca dan tidak bisa diduga, kalau harapan kami tentu tidak ada kejadian kebakaran,” ujarnya.

Dia menjelaskan, mayoritas kasus kebakaran yang terjadi di Kota Jogja disebabkan oleh korsleting listrik. Kemudian karena ledakan gas, puntung rokok, lilin, dan lainnya.

Herry mengatakan, kejadian kebakaran karena korsleting listrik disebabkan masyarakat yang jarang mengecek kondisi instalasi listriknya. Ada pula yang karena kecerobohannya menggunakan stop kontak untuk berbagai colokan.

“Karena banyak colokan, tumpuk-tumpuk, akhirnya sumbernya jadi panas dan terbakar,” jelasnya.

Di Dinas Kebakaran Kota Jogja sendiri juga memiliki sebutan segitiga emas untuk kawasan rawan kebakaran, yaitu di Gedongtengen, Danurejan, dan Gondomanan.

“Selain tiga kawasan itu, Umbulharjo juga menjadi kecamatan yang paling sering terdapat kejadian kebakaran. Kondisi di sana kan padat pemukiman warga, ditambah padatnya aktivitas warga potensi kebakaran jadi tinggi,” ujarnya.

Sebagai bentuk pencegahan sendiri, Dinas Kebakaran Kota Jogja terus melakukan sosialisasi ke kampung. Termasuk dengan pencanangan tiga kampung yaitu Patuk, Kauman, dan Prawirodirjan yang menjadi lokasi percontohan pembangunan jaringan hidran berbasis kampung.

Di tiga kampung tersebut juga tergolong padat penduduk sehingga mobil pemadam kebakaran tidak bisa masuk kampung.

“Makanya kami bangun jaringan pipa hingga tengah kampung, untuk mengalirkan air dari mobil,” jelas Kepala Bidang Pencegahan Lebak Dinas Kebakaran Kota Jogja Rajwan Taufik. (pra/ila/mg2)

Jogja Utama