Di era modern seperti sekarang, rakit atau gethek ternyata masih menjadi alat transportasi tradisional andalan warga bantaran Sungai Progo, yang menghubungkan wilayah Bantul dan Kulonprogo.

VITA WAHYU, Bantul

Sore itu tak kurang tujuh pengendara sepeda motor tampak bersiap menyeberangi Sungai Progo selebar sekitar 120 meter. Tentu saja mereka tak mengendarainya dengan mengarungi sungai yang terkenal cukup dalam dan berarus deras itu. Ternyata, mereka sedang menunggu Suradi, si “sopir” gethek yang tengah berada di seberang bibir sungai, Dusun Mirisewu, Ngentakrejo, Lendah, Kulonprogo. Ya, itulah keseharian aktivitas warga Dusun Mangir, Sendangsari, Pajangan, Bantul maupun warga Mirisewu. Baik untuk mencari rumput hewan ternak, bekerja, atau sekadar bepergian ke luar kota.

Demi menghemat waktu sekitar 20 menit mereka memberanikan diri menumpang gethek untuk pergi maupun pulang antar-dua wilayah itu. Sebab, jika menggunakan jalur normal melalui jalan beraspal mereka harus memutar sejauh hampir 15 kilometer. Dengan gethek jarak belasan kilometer dipangkas menjadi 120 meter atau selebar Sungai Progo. Dengan jarak tempuh cukup tiga menit.

Kendati begitu, butuh mental kuat dan nyali besar bagi siapapun yang mau menyeberang. Terutama bagi penumpang yang tak bisa berenang. Apalagi saat arus air cukup deras karena bagian hulu diguyur hujan. Terlebih, penumpang gethek tak selalu hanya seorang. Suradi biasanya menunggu hingga getheknya penuh penumpang. Baik berdiri maupun duduk di atas sepeda motor.

Gethek berukuran 2 x 5 meter persegi yang terbuat dari bamboo itu mampu mengangkut delapan sepeda motor. “Setiap hari tak kurang 200 pengendara motor menyeberang sungai ini. Daripada ngalang jauh,” ungkap Suradi yang hanya mematok tarif Rp 2 ribu per orang untuk sekali penyeberangan.

Menyeberangi Sungai Progo dengan gethek seolah telah menjadi tradisi warga Mangir dan Mirisewu. Sejak tahun 1960-an. Gethek menjadi angkutan umum alternative karena sejak dulu pemerintah tak berupaya membangun jembatan di lokasi itu. “Kalau debit air tinggi, air meluap atau banjir otomatis berhenti dulu. Ini demi keamanan penumpang,” tuturnya.

Demi menjamin kenyamanan dan keamanan penumpang, Suradi selalu memperbarui getheknya setiap tahun sekali. “Bahannya, kan cuma bambu dan kayu untuk sisi-sisinya. Kalau setiap hari kena air bambu akan lapuk,” lanjutnya.

Suradi tak menggunakan kayuh untuk menggerakkan gethek-nya. Dia hanya mengandalkan tali yang dikaitkan ke bahu gethek dan terhubung di dua sisi bibir sungai. Untuk menggerakkan gethek, Suradi cukup menarik tali ke arah yang dituju dengan kekuatan tangannya. Tali itu sekaligus menjadi alat pegangan. Namun, para penumpangnya dibiarkan duduk di jok sepeda motor atau berdiri di atas bambu. Memang tak ada fasilitas pengaman seperti pelampung untuk para penumpang. Namun, mereka tetap tampak tenang-tenang saja karena sudah terbiasa. “Asal tidak kelebihan muatan masih aman,” kata Suradi menggaransi.

Nah, bagaimana saat musim kemarau dan debit air surut. Kondisi itu tak lantas menghilangkan akal Suradi untuk mencari nafkah. Bekerja sama dengan dua pemilik gethek lainnya, Suradi membuat jembatan sesek, yang juga terbuat dari bambu dan kayu. Siapapun yang lewat dikenai tarif jasa Rp 2 ribu. “Kalau musim hujan airnya tinggi dan deras, sehingga jembatan sesek rapuh dan mudah hanyut. Makanya pakai gethek,” tuturnya.

Sunarto, petani asal Sanden, Bantul merupakan salah satu pelanggan Suradi. Tiap hari dia harus mengambil gabah ke Kulonprogo untuk dijual lagi. “Lebih cepat sampai soalnya,” tutur pria paro baya itu.(yog/mg2)

Boks