JOGJA- Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X meminta Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia atau ASITA ikut menyelesaikan beberapa masalah terkait dunia pariwisata.

Di antaranya, tarif parkir yang mahal di beberapa tempat destinasi unggulan. “Itu sangat merugikan pengunjung,” ucap Wagub saat menerima kunjungan pengurus ASITA yang dipimpin Ketua Dewan Harian Sudiyanto akhir pekan lalu.

Yang terpenting dalam membangun pariwisata, lanjut PA X, adalah pemberdayaan masyarakat.

Soal destinasi wisata, dia menyatakan Jogja tidak dibentuk menjadi kota wisata. Tapi kota budaya dengan akses wisata yang baik.

Dalam kunjungan itu, Sudiyanto mengusulkan agar Pura Pakualaman dijadikan destinasi wisata dengan tetap menghormati privasi yang ada. Menanggapi itu, PA X menjelaskan, Pura Pakualaman merupakan kerajaan termuda di Indonesia yang sangat kecil dan hampir seluruh areanya merupakan wilayah privat. Alasannya, Pura Pakualaman merupakan rumah untuk tempat tinggal.

“Berbeda dengan Keraton Jogja yang punya lima bangsal. Sedangkan di Pura Pakualaman hanya ada satu bangsal utama dan bersifat sangat privasi,” katanya.

Pura Pakualaman juga tidak memiliki museum yang dibuka untuk umum karena semua benda koleksi masih hidup dan digunakan hingga saat ini.

Meski demikian, saat ini ada beberapa kegiatan yang bersifat umum yang dilakukan di Pura Pakualaman. Misalnya, jemparingan Mataram, batikan, dan perpustakaan yang dapat diakses masyarakat.

Namun hal itu tidak pernah dipublikasikan demi menjaga marwah Pura Pakualaman. Selain itu, Pura Pakualaman sedang bersiap membangun ruang pamer sederhana yang dapat dikunjungi masyarakat.

“Kereta-kereta sedang diperbaiki dan saat ini kami juga sedang membuat kereta baru. Pura Pakualaman akan dibuka untuk umum di titik-titik tertentu sehingga tidak akan mengganggu privasi yang ada,” jelasnya.

Di bagian lain, Sudiyanto mengatakan, tahun ini ASITA menargetkan 600 ribu wisatawan yang datang ke Jogja, sehingga banyak permasalahan yang harus ditangani. Salah satunya terkait pembangunan bandara baru Jogja yang tidak pernah terpublikasi secara detail.

Mengomentari itu, Wagub mengungkapkan, bandara baru secara resmi tidak terpublikasi perencanaannya. Itu lantaran terkait ketersediaan waktu yang sangat singkat untuk menyelesaikan proyek fisik bandara yang ditargetkan selesai 2019. Terutama bagian runway dan bangunan departemen keberangkatan.(kus/yog/mg2)

Jogja Utama