JOGJA- Gendhing-gendhing Jawa identik dengan irama pentatonis, alias lima nada dalam satu oktaf iringan musik. Apa jadinya jika lagu-lagu Jawa dibawakan dalam bentuk orchestra dengan gaya musik bernuansa diatonis? Simfoni Keistimewaan bertema “Jawa Jawi Jowo”, itulah jawabannya. Perpaduan konsep musik barat dan Jawa itu digelar di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta tadi malam (19/2).

Dimainkan oleh 60 musisi yang tergabung dalam Ayodhya Symphony Orchestra. Dipandu konduktor Eki Satria. Solois Desti Indrawati serta pemain biola Iqbal Harjq Maulana pun tampil apik dan mengundang decak kagum penonton.

Mereka memainkan lagu Anoman Obong, Rek Ayo Rek, Delman-Becak, Jaranan, Cinta Tak Terpisahkan, Doa, Overtune Trisna Kulo, Melati Suci, Mimpi, dan Cublak-Cublak Suweng. Tak ketinggalan lagu karya dalang kenamaan Ki Nartosabdho berjudul Prau Layar dan Gugur Gunung turut dimainkan.

Turut hadir Vocalista Angels Choir, juara dunia kompetisi paduan suara asal Klaten. Tak pelak, sang konduktor Eki Satria mengaku mendapat tantangan baru dalam mengiri orkestra tersebut. “Karakter tembang Jawa yang mendayu-dayu dan khas, kemudian diaransemen ke dalam musik orkestra bukan pekerjaan yang mudah, tetapi kami berusaha dengan keras untuk menampilkan yang terbaik. Yang terpenting unsur Jawa-nya tidak boleh hilang,” ungkapnya.

Membacakan sambutan gubernur DIJ, Asisten Keistimewaan, Sekretariat Daerah DIJ Didik Purwadi menuturkan, musik orkestra memberikan pengaruh besar dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Terlebih, hingga saat ini tak banyak yang tahu sejarah music orkestra Jawa ini.

Menurutnya, musik tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Keraton Jogja di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VII. Menggunakan alat musik sumbangan dari Kerajaan Islam Turki, sebagai wujud persahabatan antara Sultan Turki dan Sultan Jogja.

“Kekayaan budaya dalam hal ini musik orkestra perlu dipelihara dan dikembangkan. Pergelaran musik ini merupakan waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali kekayaan budaya tersebut,” tuturnya.

Tema “Jawa Jawi Jowo” menegaskan bahwa Keraton Jogja

merupakan pintu gerbang budaya Jawa.

Pertunjukan hasil kolaborasi Dinas Kebudayaan DIJ dan Keraton Jogjakarta Hadiningrat itu diharapkan tak sekadar bisa menjadi hiburan bagi masyarakat. Lebih dari itu sebawai wujud implementasi dalam menciptakan sosialisasi kehidupan.

Pendekatan seni budaya yang diusung juga diharapkan dapat menembus dimensi batin para penikmat musik. Sehingga mampu memberikan rasa damai dan kemanusiaan dalam esensi masalah kehidupan. (ita/yog/mg2)

Jogja Utama