JOGJA – Posko pemenangan paslon Haryadi Suyuti-Heroe Poerwadi (HS-HP), Omah Putih, yang sempat lengang selama masa tenang 12-14 Februari lalu, kemarin (15/2) kembali ramai.

Bahkan lebih ramai karena datangnya para petinggi partai politik (parpol) pengusung dan pendukung HS-HP. Belum lagi tim pemenangan, relawan, dan simpatisan.

Suasana tegang sangat terasa di dalam Omah Putih. Semua orang menatap ke layar proyektor yang menampilkan hasil laporan dari saksi dan relawan di 794 tempat pemungutan suara (TPS) di Kota Jogja. Sorak sorai terdengar jika ada penambahan suara bagi HS-HP.

Suasana makin tegang saat perolehan suara HS-HP mulai terkejar kandidat paslon nomor urut satu. Pada awalnya yang unggul hingga empat persen, mulai terkejar hingga hanya selisih nol persen. Bahkan suara HS-HP sempat dilewati. “Waduh!” teriak mereka.

Tapi, tidak berselang lama suara dukungan dan takbir kembali terdengar saat suara untuk HS-HP kembali unggul.

Wakil Ketua DPP PAN Hanafi Rais dan Ketua DPW PAN DIJ Nazaruddin tampak mondar- mandir terus memantau. Sekitar pukul 16.00, HS bersama istri dan dua putrinya, serta HP mulai datang ke Omah Putih.

Begitu datang mereka juga langsung ikut mengamati perolehan suara. “Belum, belum,” ujar HS saat hendak diminta komentarnya.

Keduanya bersama petinggi koalisi parpol kemudian masuk ke dalam ruang Steering Committee. Cukup lama mereka di dalam. Sekitar pukul 17.15 mereka akhirnya keluar dengan disertai senyum.

Bahkan beberapa tim kampanye tampak meneteskan air mata dan berpelukan. Bersama HP dan koalisi parpol, HS kemudian menggelar jumpa pers. “Ini bukan rilis resmi, tapi perhitungan suara versi paslon dua dan bersifat internal,” ujar HS.

Meskipun begitu relawan dan simpatisan HS-HP tetap merasa yakin akan memenangkan Pilwali Kota Jogja kali ini. Mereka pun kembali mengucapkan takbir dan teriakan dukungan lain.

Ketua Tim Advokasi Paslon HS-HP Kardi pun mencoba mencairkan suasana. Dia mengatakan tim pemenangan selama ini bertindak secara normatif dan tidak melakukan pelanggaran apapun. “Makanya tim advokasi akan tetap mengawal hingga perhitungan di KPU,” ujarnya.

Tapi, untuk data sementara ini, mantan Kajari Jogja itu meminta tidak perlu dirayakan di luar. Cukup di dalam posko saja. Kardi pun mengajak semua yang hadir untuk merayakan dengan makan tengkleng.

“Tengkleng yang enak itu di Malang, Jawa Timur, tapi tutupnya pukul 21.00, sekarang sudah 17.30 jadi sepertinya tidak cukup waktunya. Ditunda saja sampai semua punya rezeki ke sana sendiri,” ujarnya disambut tawa. (pra/ila/mg2)

Jogja Utama