Pentas wayang potehi selalu menjadi yang ditunggu-tunggu dalam setiap perayaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY). Saat itulah Purwanto unjuk gigi. Pria asal Ngoro, Jombang, Jawa Timur itu dipercaya panitia PBTY untuk menghibur masyarakat Jogjakarta.

VITA WAHYU HARYANTI, Jogja.

Logat bicaranya sekilas terdengar fasih berbahasa Mandarin. Sesekali, Purwanto menyisipkan ungkapan yang memang sudah lazim menjadi bagian dialog masyarakat keturunan Tionghoa, bahkan juga warga lokal Jawa. Setelah didengar lebih tajam, dalang 51 tahun itu ternyata tak benar-benar memainkan wayang potehi dengan dialog bahasa Mandarin. Melainkan berbahasa Indonesia campur Jawa, namun dengan aksen dialog yang dibuat kecina-cinaan. Hal itulah yang selalu menimbulkan geeerrrr para penonton. Purwanto berhasil mengocok perut penonton.

Itulah resep dalang wayang potehi yang sudah malang-melintang di berbagai kota di Indonesia sejak 1991 itu.

“Dulu dialog pentas wayang potehi memang pakai bahasa Mandarin atau Tiongkok. Tapi kalau sekarang aksennya saja. Dalangnya juga tak harus keturunan Tionghoa. Bahkan banyak dalang potehi keturunan Jawa, saya salah satunya,” ujar Purwanto sebelum pementasan wayang, Kamis (9/2) malam.

Bagi dia, memainkan wayang yang konon berasal dari

Fujian, Quanzhou, Zhangzhou, Tiongkok bukanlah hal sulit, tapi juga tidak gampang.

Dalang harus mampu memainkan tangan dan jari untuk membuat wayang seolah hidup. “Konon wayang ini masuk Indonesia sekitar abad ke-16,” jelasnya.

Menekuni profesi sebagai dalang wayang potehi adalah pilihan bagi Purwanto. Itu berawal ketika tahun 1980-an. Dia dibuat terkesima dengan penampilan pamannya, yang saat itu termasuk sedikit dalang wayang potehi ternama. Dari situlah Purwanto muda tertarik untuk belajar menjadi dalang yang lekat dengan budaya Tionghoa itu.

Tak ada niat selain untuk menghibur masyarakat. Itulah yang selalu menjadi semangat bagi Purwanto hingga lebih 25 tahun menekuni profesi sebagai dalang wayang potehi. “Saya juga ingin melestarikan warisan akulturasi budaya nenek moyang kita,” tuturnya.

Dalam perayaan ke-12 PBTY di Kampung Ketandan, Kota Jogja, Purwanto mengangkat kisah Pethilan Sam Kok dengan memainkan beberapa karakter dewa dan raja Tiongkok. Seperti Jae Sen Yik (Dewa Rezeki) dan Kwan Kong (Dewa Keadilan).

Kisah itu bererita pengalaman Kwan Kong mengawal dua enso (saudara ipar) dalam perjalanan dari Kota Hi Toue menuju Ho Pak. Selama di perjalanan, ketiganya harus melintasi lima kota dan mengalami banyak rintangan.

Dalam setiap pementasan, dialog wayang potehi diiringi alat-alat musik tradisional khas Tiongkok. Seperti gembreng besar (Toa Loo), gembreng kecil (Siauw Loo), rebab (Hian Na), Suling (Bien Siauw), gendang (Tong Ko), dan slompret (Thua Jwee).

Satu hal unik yang menjadi tradisi sebelum pementasan adalah ritual doa oleh dalang dan tokoh wayang bersama para pemain musik. Ritual khusus ditujukan kepada Tuhan demi kelancaran selama pementasan.(yog/mg2)

Boks