Puluhan dukuh se-DIJ yang tergabung dalam Paguyuban Semar Sembogo ngeluruk ke gedung Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta. Tujuannya ikut menghadiri sidang lanjutan uji materi pasal 18 ayat (1) huruf m UU No 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIJ.

KUSNO S. UTOMO, Jogja

SEBELUM berangkat ke ibu kota, mereka terlebih dulu pamit ke anggota dewan DIJ. “Kami mohon pamit, bersama teman-teman berangkat ke Jakarta. Mohon doa restu agar mendapatkan hasil terbaik bagi DIJ,” ungkap Ketua Semar Sembogo Sukiman Hadiwijoyo di lobi gedung DPRD DIJ, kemarin (7/2).

Mereka diterima dan dilepas oleh Wakil Ketua Komisi A Sukarman dan anggota Komisi A Agus Sumartono. Didampingi belasan anggotanya, Sukiman menjelaskan, keberangkatan ke ibu kota dibiayai secara swadaya. Mereka berangkat dengan menumpang kereta api dan kendaraan pribadi. “Saya termasuk yang berangkat nyepur (makai kereta),” kata Sukiman.

Paguyuban dukuh datang ke MK untuk memberikan dukungan moral menolak terhadap uji materi UUK. Mereka berpendapat UUK harus dipertahankan. Upaya mempertahankan UUK itu juga dalam rangka menjaga paugeran adat Keraton Jogja.

Menurut dia, amanat UUK sudah benar dan tidak perlu diutak-atik. Dia berharap MK mendengarkan aspirasi masyarakat itu dengan menjatuhkan putusan menolak gugatan. Sukiman menambahkan, kehadirannya juga dalam rangka menjadi saksi fakta.

Dia akan memberikan keterangan di depan sidang MK yang digelar hari ini Rabu (8/2). “Saya siap jadi saksi fakta,” tandasnya.

Menanggapi sikap dukuh itu, Sukarman mengapresiasi semangat anggota Semar Sembogo itu. Di mata dia, langkah para dukuh itu sudah tepat untuk menjaga dan mempertahakan keistimewaan DIJ.

“Keistimewaan memang harus terus dikawal. Saya sebagai bagian dari pelaku sejarah menyesalkan gugatan ke MK itu,” kata mantan kepala Desa Panjatan, Kulonprogo ini.

Semasa menjabat kepala desa, Sukarman aktif sebagai pegiat keistimewaan. Dia menjabat ketua Paguyuban Kepala Desa se-Kulonprogo “Bodronoyo”.

“UUK itu kalau mau digugat mestinya setelah berjalan lebih dari 10 tahun. Baru empat tahun kok sudah diuji ke MK,” sesalnya.

Saat memberikan sambutan, kader Partai Golkar ini sempat keseleo lidah. Agus Sumartono yang berasal dari FPKS disebutnya berasal dari Fraksi Amanat Nasional. “Maaf salah dari FPKS,” ujarnya meluruskan.

Kehadiran ke MK bukan hanya dilakukan para dukuh. Putra-putri HB IX minus HB X dijadwalkan juga mengikuti sidang tersebut. Informasi ini disampaikan salah satu putra HB IX, GBPH Prabukusumo.

“Kami bukan sedang berebut kekuasaan. Tapi, kami ingin mempertahankan paugeran adat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat,” katanya.

Putra-putra HB IX yang dijadwalkan hadir terdiri tiga orang kakak perempuan HB X yakni GBRAy Moerdokusumo, GBRAy Darmokusumo, dan GBRAy Riyokusumo.

Lalu adik-adiknya seperti GBPH Hadiwinoto, GBPH Hadisuryo, GBPH Prabukusumo, GBPH Yudhaningrat, GBPH Pakuningrat, dan lainnya. Mereka terlahir dari empat istri HB IX. Saudara kandung HB X yang ikut serta adalah GBRAy Riyokusumo (kakak) dan KGPH Hadiwinoto (adik).

Berdasarkan risalah MK 30 Januari 2017, agenda sidang hari ini masih mendengarkan keterangan ahli dari DPD RI serta Prof Dr Purwo Santoso dan Prof Dr Jawahir Thontowi SH yang diajukan Lembaga Penasihat Bantuan Hukum PBNU Jakarta. (ila/mg2)

Boks