GERR SAMA : KELIK PELIPUR LARA

PILKADA serentak segera digelar. Masyarakat mulai sibuk. Terutama detik-detik menjelang coblosan! Pilkada yang tempo doeloe maknanya Pilihan Kepala Daerah, kini ber-metamorfosa, lantaran Pilkada dulu dinilai cenderung banyak ketimpangan dan kecurangan sehingga bermakna Pilihan Karena Atas Dasar Akal-akalan, hehehe…

Tujuan Pilkada Serentak tak lain dan tak bukan sekadar ingin pelaksanaannya berjalan Jurdil (Jujur dan Adil) dan menjadi dambaan seluruh masyarakat. Meski keinginan itu tak semudah membalik telapak tangan. Karena yang namanya Pilkada, selalu saja ada celah untuk bermain curang. Ada yang namanya Serangan Fajar yang selalu menghantui. Karena istilah NPWP alias “Nomer Piro Wani Piro” selalu dijadikan taruhan. Tak dapat dipungkiri, budaya transaksional masih menjadi habit alias kebiasaan. Baik pilkada tempo doeloe maupun pilkada serentak.

Padahal, bila kita cerdas, saya yakin kandidat terbaik pasti terpilih. Karena ada kelakar di masyarakat, yang namanya pilkada itu cuma ada dua, Calon Tetap dan Tetap Calon. Lantas bagaimana menepis kelakar masyarakat seperti itu? Kita dituntut kreatif dalam segala hal.

Misalnya kreatif dalam melontarkan visi dan misi, kreatif dalam kampanye, dan lain sebagainya. Dengan catatan, tanpa harus menjelek-jelekan pasangan lawan atau istilah menterengnya Black Campaign atawa Kampanye Hitam alias Au’ah…Gelap!

Kampanye merupakan salah satu sarana pemenangan duet kandidat dalam pilkada. Kedengarannya sepele, namun rentan memunculkan gesekan antarpendukung pasangan calon (paslon).

Untuk itu kita dituntut kreatif dalam kampanye. Tanpa menjatuhkan paslon lain. Misalnya, dalam kampanye melibatkan Media. Karena Media setahu saya maknanya adalah Memang Diperlukan Andilnya dalam segala hal. Sebagai contoh :

Media Cetak : Koran

Kolomnya bisa dimanfaatkan menjadi ranah kampanye untuk menyampaikan visi dan misi. Tentu dengan disain kata-kata dan gambar yang sopan dan santun, tertata apik dan menarik publik. Menjelang Pilkada kolom Koran bisa jadi rebutan masing-masing kandidat. Saking larisnya, Koran bermakna menjadi Kolomnya kedodoRan, hehehe..!

Media Audio : Radio

Ranahnya Audio. Meski hanya melalui media audio, alias suara, tim sukses harus jago memanfaatkan sebagai salah satu alat kampanye dengan baik. Radio bisa dijadikan Ranah Dialog dengan tetap memperhatikan rambu-rambu lalu lintas bicara yang sopan dan santun.

Media Audio Visual : Televisi

Secara etimologi terdiri dari dua kata, Tele dan Visi. Tele artinya jauh dan Visi artinya pandangan. Jadi makna secara keseluruhan adalah pandangan kita bisa lebih jauh ke depan. Bila tidak cerdas dan cermat dalam menyampaikan visi dan misi, makna televisi berubah menjadi jauh pandangannya alias blur.

Media Luar Ruang :

Baliho

Banyak di Lihat Orang. Artinya, bila memasang gambar kandidat lewat Baliho yang menarik perhatian calon pemilih. Letak dan tempatnya harus strategis, artinya Banyak di Lihat Orang, minimal Banyak di Lirik Orang. Jika salah tempat, atau di tempat yang sudah banyak Baliho, bisa berakibat fatal. Makna Baliho bisa jadi Banyak beraLih ke Orang lain.

Spanduk

Merupakan media luar ruang yang maknanya Spacenya menDukung. Artinya bila pasang spanduk yang berpendar-pendar, di beberapa titik lokasi dengan memasang gambar pasangan calon, so pasti pendukung bakal memberikan dukungan penuh. Bila Tim Sukses salah strategi pasang spanduk, bisa-bisa Spaneng dengan para penDukungnya.

Medsos : Media Sosial

You Tube

You itu artinya Kamu alias Kandidatmu. Sedangkan Tube artinya Tujuan Utama Berkampanye. Jadi secara global You Tube adalah Kandidatmu Tujuan Utama untuk Berkampanye dengan cara menyampaikan visi, misi dan program yang menjanjikan. Bahkan dengan medsos You Tube, terbukti banyak pemimpin yang berhasil. Misalnya Dede You Tube dan You Tube Kalla, hehehe!

Twitter

Adalah Transwer Informasi Tetap sanTer. Artinya bisa dijadikan sebagai alat kampanye untuk menyampaikan visi dan misi serta program yang tepat dan apa adanya. Bukannya ada apa-apanya? Okey!

Masyarakat kita sudah cerdas dan kritis dalam menyikapi dan menghadapi Pilkada. Sebagai kandidat yang dibutuhkan adalah kejujuran. Karena kejujuran merupakan modal utama menjadi Pemimpin, bukannya seorang Pemimpi? Ada kata bersayap berbunyi, to be a leader alias menjadi seorang pemimpin. Itu lebih mudah dilakukan dibanding, how to be a leader? Alias bagaimana menjadi seorang peimpin? Semoga dalam Pilkada Serentak kelak bener-benar merupakan Pilihan Kawula Muda. Bukan Pilihan Karena Atas Dasar Akal-akalan. Pertanyaannya, apa beda Pil KB dengan Pilkada? Pil KB kalau lupa bisa jadi. Sementara Pilkada kalau jadi bisa lupa. (***/ila)

Jogja Utama