JOGJA – Masa kampanye Pilwali Jogja 2017 hampir dipastikan tanpa bleyeran motor khas kampanye terbuka untuk mengikuti rapat umum. Hingga Senin (6/2) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jogja belum menerima surat pemberitahuan dari tim pasangan calon (paslon) yang akan menggelar rapat umum.
“Belum ada pemberitahuan yang masuk ke KPU,” tandas Ketua KPU Kota Jogja Wawan Budianto kemarin (6/2).
Padahal, masa kampanye akan berakhir pada Sabtu (11/2) dengan aksi simpatik KPU Kota Jogja bersama tim paslon untuk membersihkan alat peraga kampanye. Jatah kampanye terakhir paslon Imam Priyono dan Achmad Fadli (IP-Fadli) pada Kamis (9/2). Sedang paslon Haryadi Suyuti dan Heroe Poerwadi (HS-HP) pada Jumat (10/2).
Ketika dihubungi, Ketua Tim Pemenangan Paslon IP-Fadli, Danang Rudiyatmoko, mengisyaratkan tidak akan mengambil jatah rapat umum terbuka. Hal itu, jelas Danang, karena mempertimbangkan banyak hal. Termasuk sisa jadwal kampanye yang makin mepet dan tidak terdapat hari libur.
“Sepertinya kok tidak ambil (rapat umum), kami juga menjaga kondusivitas kota, tapi yang pasti 9 Februari itu bukan hari libur,” ujarnya.
Menurut dia, awalnya direncanakan rapat umum digelar Minggu (5/2), tapi pada saat bersamaan ada acara dari Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto di Jogja. Dengan begitu, rencana kampanye rapat umum paslon IP-Fadli dibatalkan.
“Kan tidak mungkin kami menyiapkan dua agenda di hari yang sama,” jelasnya.
Meski tanpa kampanye rapat umum, anggota DPRD Kota Jogja itu tidak khawatir berimbas pada elektabilitas paslon nomor urut satu tersebut. Danang menilai, kampanye dialogis dengan blusukan ke kampung dan berkunjung ke tokoh lebih baik dibanding pengerahan massa. “Kampanye selama ini cukup efektif bisa bertemu langsung dan komunikai dengan warga,” ungkapnya.
Sementara itu, tim paslon HS-HP, sejak jauh hari sudah menyatakan tidak mengambil jatah rapat umum. Anggota Steering Committee tim pemenangan HS-HP, Suhartono mengatakan, penyelenggaraan rapat umum terlalu banyak menguras energi. Belum lagi terkait dampak pengerahan massa dalam jumlah yang besar.
“Gangguan lingkungan serta dampak pada situasi kota juga jadi perhatian kami,” ujarnya.
Hartono, sapaannya, mengaku sejak awal masa kampanye, tim paslon HS-HP beserta partai pengusung dan pendukung komitmen tidak akan mengambil jatah rapat umum.
Menurut dia, dampak rapat terbuka juga tidak terlalu signifikan jika dibandingkan kegiatan kampanye selama ini. Yakni banyak menyambangi kampung dan komunitas. Kegiatan itu dinilai lebih efektif dalam menjaring aspirasi warga.
“Selama ini dengan dialog bersama warga malah bisa menegtahui harapan dam kekurangan Kota Jogja untuk diperbaiki pada periode selanjutnya,” ungkapnya. (pra/ila/mg1)

Blusukan dan Dialog Dinilai Lebih Efektif

Jogja Utama