JOGJA- Ada nuansa berbeda dalam peringatan ke-211 hadeging Kadipaten Pakualaman kemarin (3/2). Berbagai sayembara digelar untuk masyarakat. Mulai lomba macapat, jemparingan, pacuan kuda, hingga melukis.

Dari sekian banyak lomba yang digelar, macapat menjadi salah satu yang menarik minat peserta. Tak kurang 185 orang ambil bagian dalam lomba nembang atau puisi tradisional Jawa.
Mereka tak hanya berasal dari wilayah DIJ. Beberapa datang dari Semarang, Klaten, dan Surakarta. Para abdi dalem Kadipaten Pakualaman tak mau ketinggalan. Isti Praptini, salah seorang di antaranya. “Baru pertama kali ini saya ikut. Tapi sebelumnya pernah juga lomba macapat setingkat DIJ,” ungkapnya.
Bagi Isti, macapat bukan sekadar puisi tradisional. Tapi memiliki makna yang sarat ilmu dan pendidikan. Mirip pantun, namun penyajiannya dilantunkan dengan nada harmonis.
Setiap bait macapat terdiri atas beberapa baris kalimat yang disebut gatra, dengan sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu.
Pada sayembara kali ini ada satu tembang wajib yang harus dilantunkan setiap peserta wanita, baik kategori dewasa maupun pelajar. Yakni, Dhandhanggula Nitisadyasih Laras Slendro Pathet Sanga. Sedangkan bagi peserta pria Sinom Satata Budya Laras Slendro Pathet Sanga.
“Kalau saya sengaja ikut karena ingin melestarikan budaya. Siapa lagi kalau bukan oleh generasi muda,” ungkap Fiduhirani Tigatma Rustam, peserta lain asal Jurusan Sastra Jawa, Universitas Gadjah Mada.(mg5/yog/mg1)

Dhandanggula dan Sinom Jadi Tembang Wajib

Jogja Utama