“Waktu itu memang ada surat dari KPU Kota Jogja, yang mengabarkan baliho doyong, segera kami perkuat,” ujarnya.

Meski begitu, Fahmi menyayangkan pemasangan baliho di Terban yang tidak standar. Selain lokasi yang terbuka sehingga mudah terkena angin, juga dekat jembatan. Fondasinya juga dinilai tidak cukup kuat untuk menopang baliho ukuran 4×7 meter.

“Saya lihat fondasinya juga tidak cukup kuat, terlebih di tempat yang mudah diterpa angin,” ujarnya.

Wakil Ketua DPRD Kota Jogja itu juga menyoroti pemasangan APK lain yang dinilai sembarangan. Di antaranya, Fahmi menyebut, pemasangan yang berada di taman, pergola atau tiang listrik. Meski sudah diserahkan ke tim paslon, karena merupakan APK KPU, pihaknya tidak bisa memindah. “APK KPU kan pemasangan selalu sepasang, kalau dipindah ya harus dipindah semua,” ujarnya.

Sementara itu, Penjabat Wali Kota Jogja Sulistiyo mengharapkan peristiwa jatuhnya baliho yang memakan korban jiwa itu menjadi introspeksi bersama. Sulistiyo berharap pada KPU Kota Jogja supaya dalam pemasangan APK lebih aman dan tidak sampai mencelakakan orang.

“Ya tentu di internal KPU akan ada evaluasi, apa yang sedang dan sudah dilakukan,” ujarnya. (pra/ila/ong)

Jogja Utama