GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
DISKUSI: Bakal calon wali kota Garin Nugroho dari jalur independent saat berdialog dengan warga dan jurnalis di rumahnya di daerah Jayeng Prawiran, Pakualaman, Jogja, Kamis (28/4).

Siapkan Dua Film untuk Hidupi Jadi Wali Kota

Berbagai penghargaan film internasional hampir tiap tahun selalu bisa didapatkan. Film-filmnya pun sangat populer, seperti Daun di Atas Bantal, Soegija, dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Penonton film karya-karyanya juga sampai membeludak. Tapi, demi kotanya tercinta, Garin Nugroho Riyanto memilih untuk maju di Pemilihan Wali Kota (Pilwali) 2017
HERI SUSANTO, Jogja
RUMAH konsep Jawa dengan joglo, gandok, dan pepohonan rimbun di salah satu gang Jalan Jayeng Prawiran, Pakualaman, mulai ramai. Beberapa orang tampak duduk beralaskan tikar di joglo.

Sebuah standing banner Jogja Independent (Joint) tampak sebagai penanda rumah. Bahwa rumah itu milik salah satu kandidat calon wali kota (cawali) Garin Nugroho. Kandidat yang memilih maju dari jalur perseorangan nonparpol.

Membuka acara konferensi pers soal launching Posko pengumpulan KTP dukungan, Garin bercerita mengenai penghargaan yang telah dia terima dari Kedutaan Perancis. Sambil menunjukkan sebuah emblem, Garin menjelaskan, negara di Eropa itu memberikan penghargaan kepadanya atas dedikasinya di dunia perfilman Indonesia.

“Karena saya lahir di tengah krisis film. Saat itu, tahun 1990-an, film di Indonesia biasanya bercerita soal seks. Saya buat film Daun di Atas Bantal,” kata sineas yang 6 Juni mendatang merayakan ulang tahun ke-51 tahun, kemarin.

Berbagai penghargaaan film itu, sudah menunjukkan kemampuannya menginspirasi penikmat film. Bahkan, tak hanya dalam negeri. Masyarakat luar negeri juga selalu menanti karya-karya dari alumnus jurusan Sinamatografi Institute Kesenian Jakarta (IKJ) ini.

Kendati demikian, masih ada satu hal yang membuat Garin masih harus terjun di politik. Dia berkeinginan, Jogja ke depan menjadi kota inspirasi kebangsaan. Identitas selama ini yang sudah mulai meredup.

“Wali Kota Jogja harus lebih baik daripada wali kota atau bupati daerah lain. Wali Kota Jogja harus bisa menginspirasi daerah lain,” jelasnya.

Dia menegaskan, kekayaan Kota Jogja selama ini adalah pada Sumber Daya Manusia (SDM). Inilah yang seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah untuk memajukan kota. “Sebagai kota pendidikan, Jogja hanya sebatas lembaga pendidikan formal. Jogja harus sudah berbicara bagaimana membangun lembaga pendidikan nonformal. Mau belajar film, cukup datang bergabung di komunitas film di Jogja selama dua minggu,” bebernya.

Demi bisa mengembangkan tugas sebagai kepala pelayan di Kota Jogja itu, Garin mengaku, telah membuat perencanaan panjang. Termasuk soal profesinya saat ini dengan dirinya saat menjabat wali kota.

“Saya sudah buat dua film, Nyai dan Setan Jawa. Dua film itu sudah cukup untuk hidup empat tahun,” kelakarnya.

Selama lima tahun ke depan, kata Garin, dia tinggal memetik panen. Aktivitasnya sebagai wali kota tak akan mengganggu profesinya sebagai sineas. “Nanti film itu sudah bekerja sendiri. Saya tinggal menghadiri penghargaan atau tayangan di Singapura dan Australia,” jelasnya.

Makanya, untuk saat ini, fokus Garin untuk maju di pilwali terpecah dengan profesinya tersebut. Tapi, Garin optimistis, modal 45 ribu dukungan KTP bakal bisa terealisasi.

“Pasti (terealisasi). Karena pada 1 Mei mendatang sudah ada posko di 45 kelurahan. Saat ini, baru 30 posko,” katanya. (ila)

Boks