JOGJA – Ajakan membudayakan gaya hidup sehat terus disuarakan Dinas Kesehatan DIJ. Termasuk saat Hari Kesehatan Sedunia. Bertepatan dengan momentum itu, dinas kesehatan menyosialisasikan cara mengenali penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes militus.

“Di era modern, diabetes merupakan suatu penyakit yang banyak dialami masyarakat. Gaya hidup tidak sehat menjadi salah satu pemicu timbulnya diabetes,” ingat Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan DIJ Sulistiyo saat membuka talk show bertema “Cegah dan Lawan Diabetes dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Sedunia di UC UGM, kemarin (7/4).

Diabetes, lanjut Sulistiyo, merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan namun dapat dicegah. “Caranya dengan melakukan gaya hidup sehat dan membuat hati nyaman,” ungkapnya.

Di tempat sama dr Bowo Pramono Sp.PD. KEMD dari RSUP Dr Sardjito meluruskan adanya pemahaman di masyarakat menyangkut jenis diabetes. Sebagian masyarakat memahami ada diabetes kering dan basah.

“Itu keliru. Tidak ada istilah basah dan kering. Diabetes ya diabetes,” ungkap Bowo. Dijelaskan, jenis diabetes ada tiga. Pertama, diabetes militus tipe 1 yang tergantung pada insulin. Penyandang diabetes tipe ini adalah anak-anak dan remaja. Tidak gemuk dan bila penyakitnya diketahui harus
menggunakan insulin. Pankreas sangat sedikit membentuk insulin atau bahkan tidak sama sekali.

Sedangkan diabetes militus tipe 2 tidak menggantungkan pada insulin. Penyandang tipe ini umumnya sudah dewasa, berusia lanjut dan agak gemuk. “Penyebabnya karena gaya hidup. Banyak dialami usia 45 tahun ke atas,” jelasnya.

Faktor keturunan atau genetik merupakan penyebab diabetes tipe 2. “Tapi faktor lingkungan seperti obesitas dan kurangnya aktivitas fisik merupakan pemicu utamanya,” terangnya.

Bowo menambahkan, ada beberapa gejala diabetes. Di antaranya sering buang air kecil, terutama saat malam hari. Cepat merasa haus dan lapar. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas. Lalu cepat merasa lelah dan mengantuk. Luka yang sukar sembuh.

“Gatal-gatal, terutama daerah sekitar kelamin. Kesemutan pada kaki atau tungkai. Kemampuan seks menurun, penglihatan kabur dan melahirkan bayi lebih dari 4 kg,” tambahnya.

Sedangkan Dr dr Zaenal M. Sofro dari Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran UGM mengatakan, diabetes dapat dicegah dengan selalu memelihara rasa gembira. Karena itu, penderita diabetes harus membiasakan olahraga dengan menggerakkan tubuh sehari minimal 30 menit.

“Dengan suasana hati yang senang, tidak marah akan membuat gula dalam darah cenderung stabil. Sebaliknya, bila suasana hati kita terganggu, gula darah akan naik dan melebihi batas normal,” kata Zaenal.

Talkshow itu juga menghadirkan Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Masalah Kesehatan (P2MK) Dinas Kesehatan DIJ drg Daryanto Chadorie MKes. Dia berbicara soal kebijakan penanggulangan PTM di DIJ. Kebijakan itu antara lain menyangkut pembentukan pos pembinaan terpadu atau posbindu.

Masyarakat, terang Daryanto, dapat mengajukan pembentukan posbindu melalui puskesmas setempat. Selanjutnya dinas kesehatan kabupaten dan kota mengadakan pelatihan dalam rangka pembentukan dan pelaksanaan posbindu tersebut. “Setiap tahun pelatihan itu diadakan. Di satu kelurahan bisa saja dibentuk posbindu lebih dari satu,” paparnya. (kus/laz/ong)

Jogja Utama