GUNAWAN/RADAR JOGJA
NATURAL: Christine Hakim saat beradu akting dengan Mercelino dalam film Surga yang Terluka di Gunung Gambar, Kampung, Ngawen, Gunungkidul, kemarin (30/3)

Tak Ada Tokoh Antagonis, tapi Tebal Karakter

Film Surga yang Terluka baru akan ditayangkan pada Desember mendatang. Film garapan Amin Ishaq ini mengambil setting di Jogjakarta. Salah satunya di Gunung Gambar, Kampung, Ngawen, Gunungkidul. Proses syuting film yang dibintangi Christine Hakim ini dilakukan kemarin (30/3).

GUNAWAN, Gunungkidul
MESKI baru akan ditayangkan akhir tahun nanti, bagi yang menyaksikan langsung proses syutingnya sudah merasakan aroma inspiratif dari film ini. Menariknya, film yang diproduseri oleh Abdulah Faiz Alkahfi ini tidak ada satu pun tokoh antagonis. Film drama ini patut menjadi inspirasi bagi ibu dan keluarga.

Film ini mengangkat cerita sebuah keluarga. Selain menjadi kado istimewa menyambut Hari Ibu pada 22 Desember, penggarapan fim Surga yang Terluka tersebut penuh dengan pesan moral. Apa pesan moralnya?
“Silakan penonton menginterpretasikan sendiri dari sudut pandang masing-masing. Film ini tidak bermaksud untuk menggurui,” kata Amin Ishaq saat ditemui di sela syuting di Pedukuhan Gunung Gambar, kemarin (30/3).

Cerita ini berangkat dari kehidupan sederhana salah satu keluarga di pedesaan. Sekelumit drama ini menceritakan perjuangan seorang ibu dalam membesarkan anak sejak suaminya meninggal dunia.

Tokoh ibu bernama Hartini diperankan oleh aktris senior Christine Hakim. Ketiga anaknya, masing-masing Banyu diperankan oleh Ade Firman Hakim, Gendis diperankan oleh Meriza Febriani, dan Satrio diperankan oleh Mercelino.

Anak-anak kemudian tumbuh dewasa dan berprestasi. Sama persis sesuai dengan harapan ibu bapak. Seiring berjalannya waktu, sampai pada satu titik ketika anak-anak harus pergi meninggalkan orang tua. Sebuah drama keluarga yang begitu dekat dengan kehidupan nyata. Menonjolkan hubungan emosional antara ibu dengan anak. Antara adik dengan kakak. Sama nyatanya dengan realita kehidupan sebenarnya.

“Cerita bergulir natural tidak ada konflik yang heboh, tapi cerita tetap berputar dengan luar biasa. Menampilkan ikatan emosional antartokoh dan menonjolkan karakter yang kuat. Yang menarik tidak ada tokoh antagonis,” ujarnya.

Dari sinilah perang karakter itu terus berkecamuk. Setelah anak-anak mulai hidup dalam dunia masing-masing, gambaran emosi makin pecah. Sosok ibu memiliki kerinduan terhadap anak, namun tidak bisa bertemu sewaktu-waktu.

Amin melanjutkan, lokasi syuting film Surga yang Terluka 90 persen dilakukan di Gunungkidul. Sementara sisanya dilakukan di wilayah Desa Nglenggeran dan Nglegi, Pundong, Bantul. Juga di Bandara Adisutjipto, UGM, dan Muntilan.

“Gunungkidul diambil karena kental dengan nuansa Jawa. Juga sangat kompleks. Kami ingin merangkumnya dalam sebuah film,” jelasnya.

Sementara itu, Meriza Febriani yang memerankan Gendis mengaku sudah menyiapkan diri jauh-jauh hari untuk memulai syuting. Bahkan untuk menghayati perannya sebagai anak Gunungkidul, dia melakukan survei langsung ke lapangan.

“Dalam memerankan Gendis, sangat terbantu dengan dukungan dari Christine Hakim. Beliau tidak pelit ilmu dan sangat terbuka kepada para pemain lainnya. Sehingga benar-benar bisa menghayati peran,” ungkapnya. (ila/ong)

Boks