JOGJA – Jaminan kesejahteraan dari Wali Kota Haryadi Suyuti terhadap juru parkir (jukir) di Malioboro tak serta merta diterima. Jukir Malioboro justru menuntut mereka bisa alih profesi. Misalnya, dengan menjadi penjual makanan atau cenderamata dengan membuka lapak baru di Malioboro.

Ketua Paguyuban Parkir Malioboro Sigit Karsana Putra mengatakan, jika tak bisa lagi menjadi jukir, mereka siap untuk alih profesi. Apalagi, di Taman Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali (ABA) tak mampu menampung seluruh jukir dan jukir pembantu yang berjumlah 211 orang.

“Kami minta dihitung saja dulu berapa yang jadi jukir. Nanti, kami rundingkan dengan teman-teman parkir. Siapa saja yang mau berpindah ke ABA? Siapa yang mau alih profesi buka lapak?” ujar Sigit, kemarin (22/3).

Tapi untuk uang kompensasi, Sigit mengaku, belum memiliki nominal. Meski, Pemkot Jogja sudah menawarkan uang kompensasi Rp 50 ribu untuk jukir dan jukir pembantu. “Kami baru akan berkoordinasi lagi. Secepatnya, agar bisa segera bersikap dengan penawaran pemkot,” terangnya.

Dia menegaskan, pada prinsipnya jukir tak menolak untuk ditata, termasuk relokasi. Asalkan, kesejahteraan mereka tetap terjamin. “Dengan parkir ini, banyak yang bisa menafkahi anaknya sampai perguruan tinggi. Kalau sampai berkurang, apa pemkot bersedia memberikan beasiswa,” jelasnya.

Dari perkembangan penataan Malioboro, Pemprov DIJ sudah melelangkan pekerjaan fisik tahap pertama. Pekerjaan senilai Rp 14,19 miliar itu rencananya mulai pada awal April mendatang. “Proses (penataan) masih on the track. Lelang sudah berjalan,” ujar Asisten Sekretaris Provinsi II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Gatot Saptadi.

Mantan Penjabat Bupati Sleman ini menegaskan, penataan Malioboro merupakan bagian dari revitalisasi sumbu filosofis Malioboro. Penataan Malioboro menuju pedestrian adalah kelanjutan dari penataan di Alun-Alun Utara. Kemudian, Titik Nol Kilometer dan terakhir nanti di Jalan Margo Utomo sampai Tugu.

“Pekerjaan dilakukan bertahap. Tahun ini ditargetkan Malioboro sudah selesai di sisi timurnya,” jelasnya.

Wali Kota Haryadi Suyuti menambahkan, untuk gambar desain Malioboro pihaknya masih menunggu perbaikan. Sebab, gambar selama ini masih belum fixed. “Kalau sudah, baru akan kami sosialisasikan ke masyarakat,” lanjutnya.

Dia mengatakan, gambar yang akan mereka sosialisasikan merupakan gambar hidup. Satu-satunya desain yang akan menjadi pedoman bersama dalam penataan Malioboro ke depan. “Jadi masyarakat tahu, seperti itu nantinya Malioboro. Sangat detail,” tandas HS, sapaan akrabnya. (eri/ila/ong)

Jogja Utama