JOGJA – Meski perbaikan infrastruktur akibat banjir Sabtu malam (12/3) mencapai Rp 2,4 miliar, Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti belum menaikkan status. Saat ini pemkot masih mengkaji sejauh mana kerusakan yang terjadi.

“Kalau sudah miur-miur hampir ambruk, berarti harus cepat diperbaiki. Tapi kalau hanya longsor tidak berpotensi bertambah lebar, bisa menggunakan dana APBD 2017,” ujar HS, sapaan akrab Haryadi Suyuti di Balai Kota Timoho, kemarin (16/3).

Ia mengungkapkan, pemilahan prioritas perbaikan sangat penting, sebagai bahan kajian menentukan status tanggap darurat. Syarat bisa menggelontorkan dana tak terduga senilai Rp 5 miliar.

“Sekarang kan sudah ada kebutuhan anggarannya. Tinggal nanti kajiannya itu. Mana yang mendesak, mana yang bisa di APBD Perubahan, mana yang di APBD Murni,” tambahnya.

Jika hasil kajian ini semua kerusakan infrastruktur harus segera diperbaiki, berarti harus ada peningkatan status. Tapi, kalau masih memungkinkan di APBD Perubahan dengan pelaksanaan September mendatang, tak perlu mengeluarkan dana tak terduga.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kimpraswil Kota Jogja menjelaskan, jika pun status tak dinaikkan, pihaknya akan menggunakan pendanaan biasa melalui APBD. Itu pun dengan skema menggeser kegiatan lain. “Jika tidak awal tahun ini kami langsung anggarkan melalui APBD untuk perbaikan kerusakan infrastruktur akibat banjir itu,” ujar Hendra.

Setelah tiga hari pascabanjir akibat luapan Sungai Winongo dan Code, warga bantaran kini mulai terserang penyakit akibat kencing tikus atau leptospirosis. Di Kelurahan Bener, Kecamatan Tegalrejo, sudah ditemukan satu pasien suspect atau terduga leptospirosis.

“Tadi pagi kami temukan satu pasien suspect leptospirosis dengan tanda-tanda awal penyakit itu. Kita sudah ambil sampel darah dan melakukan cek kesehatan. Hasilnya masih menunggu analisa labolatorium,” ujar Kepala Puskesmas Tegalrejo Prie Mahdayanti.

Menurutnya, pasien itu mengalami tanda-tanda awal penyakit leptospirosis yaitu panas tinggi disertai pegal-pegal di kaki. Penyakit akibat kencing tikus ini memang berpotensi menyerang warga pascabanjir. Kencing tikus yang mengandung bakteri letospira berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui banjir.

Jika melihat luasan banjir yang terjadi di bantaran Kali Winongo dan Code, lanjut dia, maka kemungkinan penyebaran penyakit itu bisa terjadi. Pihak Puskesmas tidak membuka posko khusus untuk penanganan kasus ini. “Kami tidak ada posko khusus, namun ada koordinasi internal dengan wilayah,” ujarnya.

Piihaknya sendiri kata dia sudah menerjunkan petugas survailans ke lokasi bencana untuk melakukan pemantauan di lapangan. Selain itu juga untuk melakukan pemeriksaan awal pada korban banjir.

“Yang jelas jika ada yang tiba-tiba merasa demam, panas tinggi dan kaki pegal-pegal, badan pegal dengan riwayat luka sebelum banjir, segeralah periksa ke Puskesmas,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Fita Yulia mengatakan, pihaknya sudah menginstruksikan seluruh Puskesmas untuk mewaspadai penyebaran penyakit itu pascabanjir. “Kami sudah keluarkan surat edaran ke seluruh Puskesmas,” ujarnya. (eri/laz/ong)

Jogja Raya