GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
JOGJA – Alih fungsi lahan pertanian selama satu dasawarsa terakhir kian masif di Kota Jogja. Makanya, untuk menemukan lahan pertanian di kecamatan yang berada di tengah kota pun sulitnya seperti menemukan jarum di tumpukan jerami. Sebab, semua lahan telah beralih fungsi menjadi beton.

Tapi, bukan berarti Pemkot Jogja tak berupaya membendung pertumbuhan bangunan fisik. Pemkot telah memberikan dua program agar pemilik sawah tetap mempertahankan lahannya. Berupa insentif keringanan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan pemberian benih unggulan.

Wali Kota Haryadi Suyuti secara khusus meminta lima kecamatan yang kini masih memiliki sawah agar bisa mempertahankan luas sawah yang ada. “Jangan sampai luas sawah terus berkurang. Karena untuk menambah sepertinya tidak mungkin,” kata HS, sapaannya, di sela panen raya di Kelurahan Sorosutan, kemarin (10/3).

Total luas sawah di Kota Jogja ada 56 hektare. Itu terbagi di lima kecamatan, yakni Kecamatan Umbulharjo terluas dengan 29,89 hektare. Kemudian Kecamatan Kotagede, Tegalrejo, Mergangsan, dan Mantrijeron.

HS menegaskan, keberadaan sawah di Kota Jogja sangat penting. Salah satunya untuk mendukung ketahanan pangan. Termasuk untuk tujuan yang lebih luas, seperti meningkatkan ekonomi masyarakat, menjaga budaya, dan mendukung perkembangan industri pariwisata.

Pemkot, lanjut HS, telah memberikan bantuan kepada masyarakat atau petani yang memiliki sawah. Bantuan diwujudkan dalam bentuk pengurangan besaran ketetapan PBB. Juga pemberian benih unggulan.

“Luasan sawah sangat terbatas, sehingga yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kuantitas hasil panen dengan menggunakan benih yang berkualitas,” terangnya.

Selain memanen padi secara langsung di sawah, HS juga menyempatkan melihat secara langsung mesin penggilingan padi. Mesin itu merupakan pemberian pemerintah pusat. HS juga memborong beras petani setempat.

“Ada tiga aspek penting dalam kegiatan panen raya seperti ini, yaitu aspek ekonomi, budaya dan religi. Bahkan, kegiatan seperti ini bisa dimanfaatkan untuk menarik wisatawan berkunjung karena unik. Di Kota Jogja ternyata masih bisa panen padi,” ungkapnya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngudi Rukun Kelurahan Sorosutan Sunarjo mengatakan, dari sepuluh kelompok tani yang bergabung, hanya tujuh kelompok yang aktif mengikuti kegiatan. “Memang banyak yang vakum karena memang mengalami kesulitan untuk pembenihan sampai perawatan,” ungkapnya.

Pada panen raya ini, di Kelurahan Sorosutan terdapat sawah seluas 12,9 hektare yang rata-rata ditanami padi jenis Ciherang. Meski lahan terbatas, terbukti panen yang dihasilkan mencapai enam ton per hektare.

“Kami juga mengelola dana pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP) sebesar Rp 100 juta. Kini sudah berkembang menjadi sekitar Rp 137,9 juta,” ungkapnya.

Kepala Bidang Pertanian Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian Kota Jogja Benny Nurhantoro mengatakan, dari total luas sawah tak semuanya ditanami padi. Sekitar 21 hektare digunakan untuk menghasilkan benih. “Karena belum banyak petani yang melakukannya. Dalam setahun, panen dua kali,” tandasnya. (eri/ila/ong)

Jogja Utama