ABRAHAM GENTA BUWANA/RADAR JOGJA

JOGJA – Insan musik Jogjakarta dari berbagai genre, dari tradisional hingga modern, berkumpul di Titik Nol Kilometer. Mereka tak sekadar ngumpul, namun mengadakan upacara peringatan Hari Musik Nasional 2016, Rabu (9/3).

Meski sempat hujan, para musisi tetap semangat menggelar upacara. Dalam kesempatan kemarin tampil pula Sujud Kendang yang memainkan kendangnya dengan lagu-lagu plesetannya.

Ketua panitia kegiatan Adi Marz mengatakan, masyarakat Indonesia umumnya dan kalangan musisi masih banyak yang belum mengetahui bahwa Indonesia memiliki Hari Musik Nasional (HMN) yang jatuh pada 9 Maret.

Tanggal tersebut, kata Adi, dipilih karena bertepatan dengan hari lahir WR. Soepratman, pencipta lagu Indonesia Raya. Usulan HMN sudah ada sejak era Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2003. Namun, baru disahkan pada era Presiden Susilo Bambang Yudoyono melalui Keputusan Presiden No 10 tahun 2013.

“Upacara dalam momentum Hari Musik Nasional untuk mengguyubkan semua musisi di semua genre musik. Istilahnya lebarannya orang musik,” kata Adi kepada Radar Jogja, kemarin.

Adi yang juga aktif sebagai penyelenggara event organizer ini mengatakan, acara puncak akan digelar di XT Square, Sabtu (12/3) dan Minggu (13/3) mendatang. Dalam acara tersebut akan digelar parade musik dari berbagai genre dengan 100 penampil.

“Dimeriahkan Pupun Dudiyawan gitaris D’Bandits, Taraz Bistara gitaris Triad, dan Billy Beatbox. Ada juga donor darah dan donasi penjualan tiket untuk panti asuhan,” ungkapnya.

Dia berharap, dengan adanya hari musik nasional, maka para musisi akan makin semangat berkarya. Walaupun saat ini industri musik dapat dikatakan sedang lesu. “Tetap membuat karya dengan tanggung jawab, estetika, dan etika,” harapnya.

Terpisah, Seniman dan Musisi Djaduk Ferianto memiliki pandangan tersendiri. Menurutnya, peringatan ini perlu dikaji lebih dalam. Terutama tentang sejarah musik di Indonesia. Djaduk berpendapat, musik di Indonesia sangat beragam. Tidak bisa digolongkan. Dia pun lebih setuju menyebutnya sebagai Hari Musik di Indonesia. “Kalau kita bicara musik di Indonesia itu kompleks dan wujud aslinya kita belum tahu. Seperti kita bicara Indonesia itu bukan hanya tanah Jawa, tapi dari Aceh hingga Papua,” tegasnya.

Djaduk berharap agar musisi menyikapi peringatan ini secara bijak. Tidak hanya menikmati euphoria, tapi berpikir secara kritis. Terutama melihat sejarah musik Indonesia tidak hanya musik populer.

Dia menegaskan menolak dengan adanya Hari Musik Nasional. Sebab, ketika memutuskan tonggak hari ini sarat dengan muatan politis. Bahkan diawal pencetusan, dia pernah dilibatkan dalam perumusan Hari Musik Nasional.

“Saya belum bisa memahami esensi dicetuskannya Hari Musik Nasional. Secara pribadi saya tidak setuju dengan adanya istilah Hari Musik Nasional. Berbeda kalau memperingati musik-musik di Indonesia,” tegasnya. (riz/dwi/ila/ong)

Jogja Utama