HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA

KONSULTASI: Petugas melayani warga yang mengikuti proses konsultasi publik soal bandara dengan sabar kemarin.

KULONPROGO – Rencana pembangunan bandara di Temon, Kulonprogo, tampaknya bakal berjalan mulus. Setelah tahap sosialisasi, warga di Paguyuban Wahana Tri Tunggal (WTT) sem-pat melakukan aksi penolakan. Tapi kini berbeda 180 derajat pada tahap konsultasi publik. Pada tahap ini, 95 persen warga yang mendapatkan dua blanko, hanya mengisi lembar persetujuan. “Dari tingkat kehadiran 99 persen, 95 persen warga mendukung pembangunan bandara,” jelas Bu-pati Kulonprogo Hasto Wardoyo saat menerima kunjungan wartawan dan DPRD DIJ di kantor Pemkab Kulonprogo, kemarin (16/12).Hasto menjelaskan, dalam ta-hap konsultasi publik ini pihaknya membagikan dua blanko kepada warga
Blanko pertama berisi surat per-setujuan atas pembangunan ban-dara di tempat tinggal mereka. Blanko kedua berisi penolakan dengan rencana tersebut. “Kami tetap nguwongke. Pembangunan bandara ini tetap demokratis. Tidak ada tekanan kepada warga,” jamin dokter spesialis kandungan ini.
Bagi warga yang tidak setuju dengan rencana pembangunan bandara, lanjut Hasto, pihaknya sudah meminta untuk tidak melakukan tindakan-tindakan anarkistis. Mereka tak perlu mengulangi penutupan jalan atau aksi lain. “Yang tidak setuju, tetap betul-betul kami berikan haknya,” tambahnya.Tahap konsultasi publik ini, sudah dilakukan di Sidorejo, Jangkaran, Sindutan, dan se-bagian Glagah. Hasilnya, dari konsultasi publik ini, mayoritas warga menyetujui pembangunan bandara.
Menurutnya, saat ini hanya tinggal di Palihan dan sebagian Glagah. “Kami target-kan tahun baru sudah selesai hasilnya. Bisa untuk kado tahun baru,” kelakar Hasto.
Terhadap warga di dua desa itu, sambung Hasto, pihaknya tetap optimistis akan bersikap sama. Warga akan mendukung rencana pembangunan ban-dara yang direncanakan memi-liki runway terpanjang kedua di Indonesia ini. “Kami yakin warga akan me-nyetujui. Kalau pun tidak, kami (pemkab) juga tidak ada beban. Karena tidak ada upaya menekan warga,” imbuhnya.
Usai tahap konsultasi publik ini, tim yang dipimpin Sekretaris Pro-vinsi (Sekprov) DIJ Ichsanuri ini selesai masa tugasnya. Kemudian ganti tim kajian keberatan yang akan bekerja. Tim inilah yang nantinya menentukan jadi atau tidaknya pembangunan bandara. “Jika peno-lakan warga diterima, berarti pembangunan bandara ganti tidak di Temon,” tutur Hasto.
Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) DIJ Budi Antono mengatakan, ada tujuh lokasi selain Temon yang memung-kinkan dibangun bandara. Ini merupakan hasil kajian timnya menindaklanjuti membeludaknya kapasitas Bandara Adisutjipto. “Temon akhirnya yang dipilih,” tandasnya.
Dari perencanaan, Anton me-ngatakan, bandara di Temon ini nantinya akan menggunakan tanah seluas 670 hektare. Ini setelah adanya kajian terhadap beberapa lokasi yang tidak memungkinkan untuk masuk dalam kompleks bandara inter-nasional ini. “Di Congot ada radar TNI AU, di barat ada Gunung Lanang, dan jalan nasional. Ditambah dengan akses jalan ke pantai. Akhirnya, diperkecil menjadi 670 hektare, itu kebutuhannya,” kata Anton.
Bandara ini nanti, sambung Anton, berkonsep airport city. Artinya, di bandara tak hanya menjadi tempat naik dan turun penumpang. Tapi, juga aktivitas penunjang bandara lain. “Akan ada hotel, restoran, dan bangu-nan lain yang akan membuka lahan pekerjaan baru bagi warga sekitar,” terangnya.

Lancar, Konsultasi Publik di Desa Palihan

Di Desa Palihan, Kecamatan Temon, proses konsultasi publik pengadaan tanah bandara ke-marin relatif lancar. Berdasarkan jumlah undangan yang disebar sebanyak 152 lembar, 135 orang hadir. Sementara yang menya-takan setuju 124 warga dan yang tidak setuju 11 warga. “Sesuai jadwal, konsultasi pu-blik di Desa Palihan berlangsung selama lima hari dan akan ber-akhir Rabu besok,” terang Ariyadi Subagyo, Tim Community Development Pembangunan Bandara Baru.
Ariyadi menjelaskan, ber-dasarkan hasil konsultasi publik selama empat hari terakhir, persentase warga yang tidak setuju di Desa Palihan semakin kecil. Dari 93 persen warga yang hadir, mereka yang setuju men-capai 88,61 persen. “Seperti hari ini masyarakat banyak yang langsung menuju ke meja konsultasi individu, karena merasa sudah cukup mendapat informasi terkait ren-cana pembangunan bandara baru di wilayahnya,” jelasnya.
Bahkan di akhir paparan yang disampaikan tim, tinggal sem-bilan orang saja yang mengikuti. Mereka antusias segera dipang-gil dan mengikuti konsultasi individu di meja yang telah disediakan panitia. Muncul sejumlah usulan, di antaranya masyarakat meng-inginkan bangunan lama ber-nilai sejarah dan situs leluhur tetap dipelihara, pascabandara beroperasi. “Ada pula yang meminta pen-jelasan tentang siapa nanti yang bakal menjadi pengelola fasi-litas pokok dan fasilitas pendu-kung bandara. Ini tentu indi-kasi positif terkait dukungan masyarakat terhadap kebera-daan bandara di Temon ini,” tambahnya. (eri/tom/laz/ong)

Jogja Utama