GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
MENATAP ULANG ASIA:Garin Nugroho (pegang mik)saat menghadiri pembukaan NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2014 di Empire XXI Jogjakarta, tadi malam (1/12)

Dibuka Tadi Malam, Usung Re-Gazing at Asia

JOGJA – Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2014 resmi dibuka tadi malam (1/12) di Empire XXI Jogjakarta. Pembukaan ditan-dai dengan penampilan Papermoon Puppet Theater di Garden Café XXI, dilanjutkan pemutaran film durasi panjang Like Father Like Son karya Koreeda Hirokazu
Dalam gelaran kesembilan ini, JAFF mengusung tema Re-Gazing at Asia. Tema ini dipilih untuk melihat peran wanita dalam perkembangan sinema di Asia. Peran ini terlihat baik dalam jalan cerita maupun sebagai sutradara dan produser.Festival Director JAFF Budi Ira-wanto menilai, tema ini juga ber-makna Menatap Ulang Asia.
Dengan melihat Asia dari kacamata yang berbeda untuk melihat potensi. Tema juga reperesentasi atas ke-kayaan dan perkembangan sinema Asia beberapa tahun ini.”Kita harus terbuka untuk me-lihat peran para wanita. Tidak hanya mempengaruhi wilayah-nya saja, tapi secara tidak langs-ung juga Asia. Memandang ulang Asia lewat sentuhan afeksi serta dijiwai oleh semangat keseta-raan,” kata Budi.
Tema ini juga mengajak cara pandang yang stereotipikal dan patriarkis. Di mana peran wa-nita kadang tersingkirkan dan tidak terlihat. Padahal di era perkembangan saat ini, dunia persaingan semakin tinggi tak terkecuali sineas wanita.Film yang ditampilkan dalam pembukaan Like Father Like Son seakan menjadi jawaban. Meski film ini karya sineas laki-laki Je-pang, Hirokazu Koreeda, mampu mengulas sebuah sudut pandang. Mengangkat permasalahan kelu-arga dalam ranah domestik. “Terkadang kita mengotakkan suatu masalah berdasarkan gen-der. Tapi dalam film ini, Hiro-kazu mencoba berbicara lain. Bagaimana dengan cerdasnya dia membongkar cara pandang stereotip. Menggelitik, tapi juga suatu bentuk khasanah yang penting,” tambah lulusan Komu-nikasi UGM ini.
JAFF juga menghadirkan pro-gram baru Wajah Baru Sinema Indonesia Hari Ini. Program ini dibuat berdasarkan pertumbu-han sinema Indonesia. Bagai-mana para sineas Indonesia semakin berkembang dan ber-kualitas dalam berkarya.Selain program ini juga akan ada sebuah penghargaan baru, Student Award. Penghargaan ini memberikan kesempatan ke-pada mahasiswa-mahasiswa untuk langsung menilai film. Managing Director JAFF Ajish Dibyo menilai, penonton me-miliki andil besar.”Jika tahun sebelumnya hanya menjadi penonton, maka tahun ini lebih aktif terlibat. Tentunya ini dapat menjadi sebuah titik kritis baru perkembangan se-nima di Asia,” kata Ajish.
Untuk tahun ini JAFF mampu menjaring sebanyak 75 film dari 18 negara. Film-film ini merupakan hasil seleksi dari total 300 film dari seluruh Asia. Pemutaran film pun berlangsung di Cinema XXI dan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) hingga 6 De-sember mendatang.Jadwal film pun dapat dilihat di sekretariat JAFF di TBY. Selain itu juga ada Open Air Cinema di Sidoakur, Godean, Sleman; Nitiprayan, Kasihan Bantul; Gi-riloyo, Imogiri, Bantul dan Banyu Sumilir, Pakem, Sleman. “Tahun ini JAFF juga menerap-kan sistem ticketing seharga Rp. 5.000,-. Sistem ini berlaku untuk menonton pertunjukan di Ci-nema XXI dan TBY. Ini bentuk edukasi agar masyarakat lebih menghargai film maker dan ka-ryanya,” kata Ajish. (dwi/laz/ong)

Jogja Utama