radja file
GUNUNGKIDUL – Kasus kekerasan yang dilakukan guru terhadap sejumlah murid di SMK 2 Muhamadiyah Playen beberapa waktu lalu berakhir secara kekeluargaan. Guru kimia, Muhammad Yusuf, yang diduga melakukan penganiayaan mengaku bertanggungjawab penuh atas kejadian itu.
“Murid yang terluka (terkena gunting) itu murni ketidaksenga-jaan. Niat saya hanya ingin memotong ram-butnya dari samping,” kata Muhammad Yusuf kepada Radar Jogja kemarin (22/10).Sesaat setelah keja-dian pihaknya juga langsung membawa Agus Bagas Wara yang berdarah ke puskesmas setempat untuk men-jalani perawatan medis. Menurut dia, murid kelas XII itu selama di sekolah berperilaku normal.
“Namun untuk dua anak (Arif Hudiyanto dan Septian Yusca) memang aktif. Kejadian di tembok (dibentur-kan di tembok) terjadi karena dua anak ini ketika ditegur seperti menantang,” ujarnya.Menurut dia, pada saat kejadian pihaknya tidak bertugas sebagai guru penertiban siswa. Hanya saja dia lakukan karena guru perempuan mengaku sudah kewalahan menangani para pelajar aktif itu. “Niat saya mendidik sebenarnya tulus untuk membantu anak meraih masa depan cemerlang,” ucapnya.
Ditanya kenapa memilih jalur kekerasan, Yusuf ber-pendapat meski keras, dirinya sportif. Tidak hanya asal main tangan, namun dalam setiap mendidik anak juga berusaha adil dan maksimal sesuai dengan kemampuan. “Ya, saya sportif. Waktu itu saya rela dipukul anak didik dan saya meminta maaf karena sebelumnya saya berperilaku kasar. Sekarang fokus saya, masalah sudah selesai, itu saja,” tuturnya.
Disinggung langkah ke depan dalam membina dunia pendidikan lebih baik, dia berharap semua guru bekerjasama dalam mendidik anak yang cen-derung aktif. Dengan begitu, tidak ada lagi muncul kasus kekerasan dalam sekolah. “Jangan hanya mengandalkan satu guru yang ditakuti. Saya kan disebut guru paling ditakuti,” ucapnya.
Pihaknya juga berharap kepada siswa untuk menghargai orang tua dan mematuhi peraturan supaya kejadian kemarin tidak terulang. Yang penting sama-sama memahami hak dan kewajiban saja karena siswa juga sudah dewasa.Sementara itu, Kepala SMK 2 Muhamadiyah Playen Sugiran menegaskan, kasus kekerasan yang terjadi beberapa waktu lalu sudah diselesaikan secara ke-keluargaan. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan guru untuk langkah perbaikan ke depan.
“Guru yang kemarin (Muhammad Yusuf), sudah tidak lagi menangani murid di lapangan. Sekarang masalahnya sudah selesai,” kata Sugiran. (gun/laz/ong)

Jogja Utama